Berjoget Ria di Bumi Siliwangi : Bagaimana Seharusnya Musik Dangdut dimaknai?

37

Oleh : Mohammad Bagas Rafif

Bumi Siliwangi, Isolapos.com-Gedung Achmad Sanusi bergemuruh pada Jumat malam (21/06), dipenuhi oleh antusiasme ratusan mahasiswa yang larut dalam suasana ceria. Pada hari itu, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Seni Musik (Hima Musik) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan sebuah acara bertajuk “Forum Juni Berjoget”. 

Dengan tagline “Jangan Ragu Jangan Bimbang, Jika Suka Mari Bergoyang”, forum ini menjadi magnet bagi para mahasiswa yang ingin melepas penat dari kegiatan akademik dengan cara yang tidak biasa: berjoget ria diiringi alunan dangdut klasik yang menghentak, dibawakan dengan penuh semangat oleh Orkes Dangdut Mahasiswa. 

Malam itu, gedung serba guna tersebut berubah menjadi pusat kegembiraan, di mana setiap lantunan musik dangdut klasik membawa gelombang kebahagiaan yang menyapu seluruh ruangan. Mulai dari lagu sang diva Rita Sugiarto hingga sang raja Rhoma Irama terdengar hingga sudut ruangan.

Menurut Panca, Ketua Hima Musik UPI, bergulirnya kegiatan ini berangkat dari kurangnya minat anak muda saat ini terhadap musik dangdut. Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa tujuan awal dari “Forum Juni Berjoget” ialah mengembalikan kepopuleran musik dangdut kepada masyarakat.

“Latar belakang diadakan acara ini tuh sebenernya untuk mengenalkan kembali, gitu, eksistensi dangdut kepada masyarakat yang telah pudar,” tuturnya.

Bertepatan dengan Hari Musik Sedunia, bagi Panca, kegiatan ini menjadi rangka dalam memaknai dangdut sebagai musik nasional serta melestarikannya. Meskipun dalam kegiatan tidak ada pungutan biaya masuk, Pamca menjelaskan bahwa masyarakat atau penonton tetap dapat merasakan pengalaman yang terbaik.

“Memang tujuan pelestarian, sih, dan karena kenapa kita selalu bikin acara free and try? Supaya pihak-pihak, khalayak-khalayak yang gak pernah merasakan eksperiens serupa, bisa kita berikan eksperiens serupa, gitu, dengan, ya yang seadanya, tetapi tetep bisa dinikmati dengan sound yang proper dan sebagainya,”  ungkap Panca yang juga menikmati acara.

Panca juga berharap setelah adanya acara ini semoga masyarakat bisa lebih dalam mengenal dan mencintai musik dangdut. “Harapan saya setelah adanya acara ini tuh masyarakat, ya, khususnya di UPI atau umumnya masyarakat umum di Bandung dan sekitarnya bisa lebih mengenal lagi, mencintai lagi dari musik dangdut.” tutupnya.

Menjadi Musik Rakyat, Juga Media Perlawanan

Tahun 1959-1967, Soekarno yang kala itu terkenal dengan sikap anti imperialisme dan kolonialisme-nya, mengeluarkan larangan mendendangkan hingga mendengarkan musik musik barat, seperti musik The Beatles yang dianggapnya sebagai alunan ngak-ngik-ngok.

“ …Dan Engkau, hai pemuda-pemuda pemudi-pemudi. Engkau yang tentunya anti imperialisme ekonomi dan penentang imperialisme ekonomi, engkau yang menentang imperialisme politik, kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialisme  kebudayaan? Kenapa di kalangan engkau banyak yang masih rock’n-rock’n- rollan, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok gila-gilaan, dan lain sebagainya lagi?…” ucap presiden pertama Republik Indonesia itu dalam pidatonya pada tanggal 17 Agustus 1959, dikutip dari narasisejarah.id.

Larangan tersebut menjadi pemicu berkembangnya musik lokal pada masa pemerintahan Soekarno. Panca menjelaskan bahwa dangdut yang kian populer pada Orde Lama membuat musik tersebut dikenal sebagai musik rakyat.  Tambahnya, hal itu ditandai dengan ramainya konser-konser Rhoma Irama yang mampu menjangkau wilayah wilayah kecil masyarakat.

Kalo kita komparasikan dengan masa itu, Orde Lama, mungkin kita bisa komparasikan ketika Rhoma Irama beken-lah, gitu, tahun 70–80-an. Pada saat itu, tuh, musik dangdut itu bisa dikenal sebagai musik rakyat, gitu, karena penikmat-penikmatnya, ya. Kalo emang kita ngeliat, gitu, konser-konser Roma dari kampung ke kampung dan sebagainya itu bisa kita simpulkan itu tuh (dangdut-Red) musik rakyat.” jelas Panca.

Turunnya Orde lama dan naiknya Orde Baru membawa serta perubahan musik dangdut di Indonesia. Dalam esai yang berjudul “Dangdut, Mahasiswa, dan Perlawanan”, Mutimmatun Nadhifah menuliskan bagaimana grup komedian seperti Warkop yang dinaungi oleh Dono, Kono, dan Indro men-kota-kan musik dangdut yang sebelumnya dicap “kampungan” lewat radio maupun pertunjukkan.

Masih dalam tulisannya, Nadhifah juga bercerita soal grup yang dibentuk ketika anggotanya masih menjadi mahasiswa Universitas Indonesia itu juga memberikan musik dangdut nuansa perlawanan samar terhadap keresahan politik, ekonomi, dan kebebasan yang dikekang oleh rezim Orde Baru pada saat itu. Grup-grup lain yang juga menggunakan dangdut sebagai perlawanan pun bermunculan, Nadhifah memberi contoh lagu dari Orkes Moral (OM) Pancaran Sinar Petromak (PSP) berjudul Gaya Mahasiswa yang mengkritik kondisi pejabat politik dan kehidupan mahasiswa kala itu.

Musik dangdut yang berubah menjadi medio untuk menyampaikan berbagai aspirasi ataupun keresahan masyarakat dianggap baik oleh Panca.“…perlawanan gak perlu melulu dari demo-demo masa yang berkerumun-berkerumun. Kita bisa mengungkapkan isu atau menolak suatu hal yang merugikan masyarakat banyak. Kita bisa lakukan dengan seni,” ungkapnya.

Terakhir, Panca juga menjelaskan bahwa media perlawanan bisa dilakukan dalam bentuk seni apapun, salah satunya melalui musik dangdut. “Dengan musik dangdut, dengan musik apapun itu, bisa dijadikan media perlawanan.” tutupnya. []

Redaktur: Amelia Wulandari

Comments

comments