Mahasiswa Papua Gelar Aksi di Bandung untuk Soroti Situasi di Tanah Papua

Oleh: Dea Azahra & Davina Salsabila

Bandung, Isolapos.com–Sejumlah mahasiswa yang terkumpul dalam Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bandung (AMP-KKB), Ikatan Mahasiswa Se-Tanah Papua (IMASEPA) bersama Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI) menggelar aksi damai di Jalan Asia Afrika, tepatnya di depan Gedung Merdeka, pada Jumat (30/05) sore. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk suara mahasiswa Papua terhadap tindakan represif militer Indonesia yang terus terjadi di tanah kelahiran mereka.

Dalam aksi tersebut, mereka menuntut tanggung jawab pemerintah atas berbagai bentuk konflik yang terjadi di Papua yang masih berlangsung. Penggusuran, tindakan kekerasan serta intimidasi yang dilakukan terhadap jurnalis menjadi rentetan peristiwa yang berkelanjutan. Salah satu peserta aksi, Christina mengungkapkan kekecewaan dan keresahannya terhadap konflik yang terjadi di tanah kelahirannya.

”Di sana rumah masyarakat, rumah-rumah warga-warga masyarakat itu di tentara, mereka masuk. Terus dirampas, terus masyarakat semparangan dibunuh, dibuang, disiksa, diperkosa. Terus masyarakat, pendeta, gereja-gereja itu mereka diambil, TNI-Polri,” ujar Christina.

Lebih lanjut, Christina menyatakan dari pemerintah setempat telah dilakukan upaya mitigasi, Christina megungkapkan bahwa pemerintah setempat sudah bicara dan mempertanyakan tindakan TNI-Polri, namun jawaban yang didapatkan tidak memuaskan dan hanya berkutat pada regulasi perizinan dan perintah dari pemegang kekuasaan Negara. 

“Mereka masuk itu di kampung-kampung, semparangan, semua hancur barang-barang dihancur, kebun masuk, semparangan. Makanya masyarakat-masyarakat sekarang sudah pengusih di kota semua yang di kampung-kampung. ” ujar Christina.

Aksi ini merupakan bagian dari gerakan mahasiswa Papua yang dilakukan di berbagai wilayah Indonesia setiap kali terjadi situasi darurat, seperti operasi militer atau kasus kekerasan terhadap warga. Gerakan ini dilakukan sebagai respons atas operasi masyarakat serta berbagai kasus pelanggaran yang menimpa masyarakat Papua, khususnya di daerah pendalaman. []

Redaktur: Rakha Ajriya Di’fan

You might also like