Jubah Kepasrahan yang Dingin
Oleh: Amirul Fadilah Alfarizi
Aku berdiri di tempat yang tak pernah kuinginkan,
memanggul paksa sebuah nama dan kehormatan.
Bukan karena jemariku erat menggenggam mau,
namun karena punggungku didorong menjemput pilu.
Mereka meletakkan kemudi di tangan yang gemetar,
di atas kapal yang jalannya tak pernah kupelajari dengan benar.
Ada yang mati di dalam dada, perlahan dan sunyi,
sebuah mimpi yang terpaksa kusembelih sendiri.
Ia meronta, memohon untuk sekadar diingat,
namun tuntutan mereka jauh lebih mengikat.
Kutukar seluruh duniaku dengan selembar mandat,
yang kini terasa seperti hukuman yang amat mengikat.
Aku tidak tahu ke mana harus melangkah,
setiap sudut ruangan hanya menyisakan lelah.
Aku hanyalah boneka di tengah riuh tepuk tangan,
yang jiwanya telah lama tersesat dalam kebingungan.
Tak ada kompas, tak ada cahaya yang menuntun pulang,
hanya ada malam yang kian pekat dan membentang.
Kurelakan hari-hariku habis dikikis jabat,
meski ragaku berjalan tanpa ruh yang melekat.
Aku menyerah pada takdir yang ditulis jemari mereka,
membiarkan diriku hanyut, kehilangan diri yang seutuhnya.