Ketika Korupsi Melawan Nurani

63

Bumi Siliwangi, isolapos.com-

Saat adegan pembuka pementasan Lakon Suap “Sebuah Pertanyaan Terhadap Penolakan” di Gedung Amphitheater Universitas Pendidikan Indonesia, 20 Desember lalu.

Balada musik dangdut terdengar menggetarkan Gedung Amphitheater Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Bersamaan dengan itu, enam orang aktor masuk ke berbagai penjuru panggung pertunjukkan sambil berjoget. Mereka berpakaian rapi layaknya pegawai kantoran. Tiba-tiba datang silih berganti orang memberikan  pengajuan proposal dana kepada enam orang tersebut. Sambil berjoget mereka menggoyangkan kedua tangannya seperti sedang mencatat, tanda sedang bekerja. Di antara enam tokoh itu, ada seorang tokoh tampak berbeda. Ia mengenakan kemeja berdasi lengkap dengan jas berwarna coklat. Ia terlihat tak acuh dan membuang begitu saja proposal pengajuan. Ia pun memberikan sejumlah uang ke pegawainya. Para pegawai pun memberikan uang kembali kepada para pengaju sambil berteriak “cair cair, cair, cair..”.  Menjelang akhir adegan, seorang pengaju tampak senang dengan proposalnya yang diajukan sambil memberikan sejumlah uang.

Rupanya, adegan joget rakyat dan birokrat itu merupakan adegan pengantar. Lakon Suap, Sebuah Pertanyaan Terhadap Penolakan dipentaskan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI .

Lampu cahaya kuning keemasan menyinari sang tokoh utama. Cerita dimulai dengan latar rumah keluarga seorang seniman. Ialah Pak Rambang (Fuad Jauharudin) yang kala itu sedang menekuni lukisannya. Kemudian nampak istri Pak Rambang, ibu Isum (Cahyaning Syafa) sedang menyuapi anaknya. Ketika itu pula, sebuah amplop tersimpan di atas meja. Sambil menghisap sebatang kretek, ia mencoba menelisik surat dalam amplopnya. Dalam suratnya, diketahui Rambang diundang menjadi seorang Juri dalam Lomba Lukis Nasional.

Cerita berlanjut, lighting panggung pun seketika meredup. Pak Rambang tengah menghadapi tiga tokoh penyuap. Singkat cerita, dengan segala cara tiga orang penyuap itu menginginkan Rambang memenangkan kotanya dalam Lomba Lukis Nasional. Mulai dengan membual, hingga menggoda Rambang dengan  sejumlah uang. Tampak bergolak hati Rambang begitu menerima tawaran suap tersebut. Dengan tekad yang cukup bulat ia menolak. Tiga orang penyuap sangat cerdik. Ketika itu, ditinggalkanlah sebuah bungkusan dengan ratusan juta uang di dalamnya. Rambang pun ragu.

Menurut penyadur cerpen, Robi Aji menuturkan keraguan seperti Pak Rambang inilah yang harus diwaspadai. “Ketika, Pak Rambang tidak menolak, tapi juga ia tidak menerima, jangan jangan lebih buruk dari pada menerima sekalipun,” tegas Robi seusai pementasan, Jumat 20 Desember lalu. Ia menambahkan, nama Rambang pun sengaja dibentuk sesuai dengan artinya tidak tetap dan ragu-ragu.

Diakhir cerita, Pak Rambang mengalami kondisi yang begitu mendesak ia dan keluarganya.  Ade, anak semata wayang Pak Rambang jatuh sakit dan membutuhkan biaya untuk berobat. Putuslah harapan Rambang untuk mempertahankan idealismenya. Bungkusan yang awalnya tidak ia terima, akhirnya ia buka juga. Tragedi tragis pun terjadi, hingga saatnya uang dalam bungkusan yang ia butuhkan ternyata hanya berisi kertas kosong. “Jangan memulai yang tidak baik, nanti tidak baik akhirnya,” ucap Ibu Isum mengakhiri cerita.

Pementasan Suap, Sebuah Pertanyaan Terhadap Penolakan berlangsung selama kurang lebih 120 menit. Kisah Rambang yang terjebak keraguan untuk berkata “tidak” terhadap sesuatu yang seharusnya ia tolak,  memaksa dia untuk menggadaikan idelismenya hingga berujung keterpurukan. Pementasan yang digarap selama kurang lebih 3 bulan itu, menurut sang sutradara Rangga Rahadian merupakan gerakan dari bidang budaya untuk memberantas korupsi. “Saya kira ini usaha dari SUAP untuk menghilangkan budaya korupsi gitu ya, walaupun secara tidak langsung,” pungkas Rangga.  [Hikmat Syahrulloh]

Comments

comments