Epicentrum 2026: Menilik Isu Child Maltreatment di Era Digital melalui Talkshow dan Exhibiton
Oleh: Gian F.A., & Khanza A.Z.
Bandung, Isolapos.com–(01/04) Epicentrum Fikom Unpad 2026 hadir kembali menggelar rangkaian acara berupa talkshow dan exhibition dengan tema “VOICE ACTION: COMBATING CHILD MALTREATMENT THROUGH COMMUNICATION AND COMMUNITY ENGAGEMENT”. Dari tahun ke tahun Epicentrum selalu mengangkat isu sebagai respons dari permasalahan jangka panjang yang menarik untuk dibahas. Di tahun ini Epicentrum kembali dibuka dengan pre-event berupa talkshow yang mengangkat isu kekerasan terhadap anak dengan mengusung tajuk “Safeguarding the Digital Generation by Addressing Digital, Social, and Psychological Risks for Children”. Panitia menilai bahwa isu ini bersifat mendesak sekaligus berdampak terhadap kehidupan individu di masa depan.
“Sebenarnya dari tahun ke tahun kita mencari tema yang sifatnya long term, yang memang urgent untuk diselesaikan sekarang, tapi dampaknya juga ke masa depan,” ujar ketua pelaksana Epicentrum tahun 2026. Ia juga menyampaikan bahwa permasalahan pada anak-anak bisa berdampak besar saat tumbuh dewasa jika tidak segera diselesaikan. “Tahun ini kita mengangkat Child Maltreatment dengan harapan bahwa ketika kita menyelesaikan permasalahan terhadap anak-anak, ketika mereka bertumbuh dan ada di usia produktif seperti kita, mereka dapat menjalankan fungsinya di masyarakat, mereka bisa dengan proper gitu pada dampaknya di masa depan” tambahnya.
Talkshow yang merupakan bagian dari pre-event ini menghadirkan content creator Alwi Johan atau yang lebih akrab disapa Alwijo sebagai narasumber. Menurut panitia, pemilihan Alwijo sebagai narasumber didasarkan pada kedekatan Alwijo dengan audiens juga kemampuannya menyampaikan isu secara ringan namun mendalam.
“Penyampaian ke kita juga bukan penyampaian yang sangat ilmiah, namun juga bukan yang terlalu dangkal. Cukup untuk mencerahkan dan membuat kita sadar dulu. Karena memang tujuan kita kan untuk membangun awareness, kedua mungkin karena basic-nya Alwijo yang menurut kita cocok dengan apa yang ingin kita bawakan, bisa dibilang mengenai visinya. We’re on the same page (antara Epicentrum dan Alwijo-red). ” jelas penyelenggara.
Selain talkshow, Epicentrum 2026 juga memiliki rangkaian lain yaitu exhibition yang berisi portofolio showcase dan competition demo. Semua rangkaian tersebut pada dasarnya diadakan untuk memperkenalkan rangkaian kompetisi yang menjadi bagian utama Epicentrum 2026.
Kompetisi ini hadir dalam tiga skala, yaitu regional, nasional, hingga internasional yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa S1 dan D4 untuk berpartisipasi dari berbagai latar belakang. Beragam cabang lomba ditawarkan, mulai dari Research Mindedness Competition di bidang karya ilmiah, Padjadjaran Public Relations Fair dalam strategi komunikasi, Parade Jurnalistik, Ideation Competition untuk ide inovatif, Commoviecator dalam produksi video kreatif, hingga Liblicious yang mengangkat kreativitas berbasis literasi. Pendaftaran dimulai pada (17/03) dan akan ditutup pada akhir April 2026, dengan main event yang dijadwalkan pada (20-21/05).
Dibalik antusiasme peserta terhadap tema Epicentrum tahun ini, panitia mengungkapkan bahwa kesadaran mahasiswa terhadap isu child maltreatment ternyata sudah mulai terbentuk. “Awalnya kami pikir tema ini masih terasa jauh, tapi ternyata banyak yang sudah aware terhadap isu ini,” ujar ketua pelaksana. Meskipun dalam pelaksanaannya, pihak penyelenggara masih menjumpai sejumlah tantangan, salah satunya adalah sensitivitas dalam mengangkat isu tanpa menimbulkan dampak negatif bagi audiens.
“Tantangannya adalah memilah-milah regulasi bagaimana caranya agar hal-hal yang sensitif tidak terasa sensitif tetapi justru merangkul para korban maupun orang-orang yang melihat dari luar,” jelasnya.
Melalui Epicentrum, panitia berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah kecil dalam meningkatkan kesadaran sekaligus mendorong aksi nyata mahasiswa melalui isu yang dibawakan. “Kami berharap, meskipun tidak semua terlibat langsung, mereka tahu bahwa ada suatu permasalahan yang ada di sini, hadir di tengah-tengah kita atau mungkin ada beberapa dari kita yang pernah merasakan dari kecil. Juga untuk peserta lomba, semoga bisa menghasilkan inovasi yang berdampak dan meninggalkan jejak,” tutur ketua pelaksana ketika ditanya mengenai harapan kegiatan Epicentrum 2026.
“Kita ingin sama-sama bisa menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi anak-anak, sesuai dengan motto Epicentrum 2026, to be heard, to be seen, and to be safe,” pungkasnya.
Epicentrum 2026 menjadi ruang terbuka bagi generasi muda yang ingin menyuarakan ide dan berkontribusi dalam perubahan.
Editor: Sanjaya S.P.