AIESEC in Bandung Antar Alfatih Berani Melampaui Keraguan Lewat AIESEC Future Leaders

1

Tidak banyak yang menyangka bahwa Alfatih pernah merasa dirinya “bukan siapa-siapa”. Di balik perannya sebagai mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), guru, sekaligus kepala sekolah di lembaga tempatnya mengajar, ia menyimpan keraguan ketika pertama kali mengikuti AIESEC Future Leaders (AFL) yang diselenggarakan oleh AIESEC in Bandung.

Sebelum bergabung, Alfatih telah aktif dalam berbagai organisasi di lingkungan kampus serta terlibat dalam sejumlah program duta dan ambassador di tingkat regional maupun nasional. Meski demikian, bergabung dengan organisasi internasional menjadi pengalaman yang benar-benar baru baginya. Ia merasa belum memiliki bekal yang cukup, terutama dalam kemampuan berbahasa Inggris. Bahkan, saat mengikuti proses wawancara seleksi, ia mengaku sangat gugup hingga harus menggunakan bantuan teknologi untuk memahami percakapan yang berlangsung.

Meski sempat merasa tidak percaya diri, Alfatih tetap memutuskan untuk mencoba. Baginya, AFL merupakan kesempatan untuk mengenal lingkungan baru, memperluas jaringan, sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan bahasa Inggris. Keputusan tersebut kemudian membawanya pada pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tantangan pertama muncul ketika mengikuti sesi onboarding. Berada di lingkungan yang didominasi penggunaan bahasa Inggris membuatnya merasa asing. Ia membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan ritme diskusi dan cara berkomunikasi para peserta lainnya. Namun, alih-alih mundur, Alfatih memilih untuk tetap mengikuti setiap proses yang ada.

Foto Resmi Milik AIESEC Bandung

Sejak awal, Alfatih membayangkan AFL sebagai program yang menghadirkan mentoring, teamwork, capacity building, dan berbagai tantangan untuk diselesaikan bersama. Selama mengikuti AFL, ia merasakan seluruh pengalaman tersebut. Namun, ada satu hal yang tidak ia duga, yaitu kesempatan untuk terlibat langsung dalam pemasaran program internasional AIESEC sekaligus membangun relasi dengan peserta lain melalui ruang international networking.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Alfatih adalah saat mengikuti sesi Activating Leadership Space (ALS). Dalam sesi tersebut, ia bersama kelompoknya mendapat kesempatan untuk mempromosikan program AIESEC. Bagi Alfatih, momen itu menjadi titik ketika ia mulai merasa lebih percaya diri untuk menjadi dirinya sendiri. Ia aktif berdiskusi, bertanya, berinteraksi dengan peserta lain, serta menyampaikan program yang dipresentasikan oleh kelompoknya. Pengalaman tersebut terasa semakin berkesan ketika kelompoknya berhasil meraih predikat Best Group pada akhir sesi.

Bagi Alfatih, penghargaan tersebut bukanlah pencapaian yang paling penting. Yang lebih berharga adalah proses yang ia jalani hingga mampu beradaptasi dan merasa nyaman berada di lingkungan yang sebelumnya membuatnya ragu.

“Aku merasa aku bukan siapa-siapa. Aku tidak punya pengalaman di organisasi internasional seperti AIESEC dan merasa kemampuan bahasa Inggrisku masih kurang. Tapi ternyata aku tetap diberi kesempatan untuk belajar di AFL,” ungkapnya.

Selain pengalaman baru, AFL juga memberikan cara pandang yang berbeda baginya. Bertemu dengan peserta dari berbagai latar belakang membuat Alfatih menyadari bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan kemampuan yang dapat dipelajari. Menurutnya, lingkungan yang suportif mendorong setiap peserta untuk terus berkembang tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.

Pengalaman tersebut juga memperkuat kemampuan adaptasinya. Jika pada awal program ia merasa canggung, perlahan ia mulai menemukan rasa percaya diri untuk berkontribusi di dalam tim. Ketika melihat belum banyak anggota kelompok yang mengambil inisiatif, ia memilih untuk maju dan membantu menggerakkan kelompok agar tetap berjalan.

“Kalau kita melihat kanan-kiri tidak ada yang mau, itu artinya kita yang harus maju.”

Bagi Alfatih, kalimat tersebut menjadi salah satu pelajaran yang paling ia pegang setelah mengikuti AFL. Kepemimpinan, menurutnya, tidak selalu dimulai dari sebuah jabatan, tetapi dari keberanian untuk mengambil langkah pertama ketika sebuah tim membutuhkan seseorang yang bergerak.

Melalui pengalaman tersebut, Alfatih juga belajar bahwa rasa ragu merupakan hal yang wajar ketika menghadapi lingkungan baru. Namun, ia percaya bahwa kesempatan untuk berkembang hanya datang ketika seseorang bersedia mencobanya. Baginya, AFL bukan sekadar program pengembangan kepemimpinan, melainkan ruang untuk belajar beradaptasi, memperluas perspektif, dan bertemu dengan orang-orang yang saling menginspirasi.

Perjalanan Alfatih menunjukkan bahwa setiap proses bertumbuh memiliki tantangannya masing-masing. Rasa tidak percaya diri yang ia rasakan di awal tidak langsung hilang, tetapi perlahan berubah menjadi keberanian untuk mencoba, beradaptasi, dan mengambil inisiatif. Pengalaman itulah yang menjadi bagian paling berharga dari perjalanannya selama mengikuti AIESEC Future Leaders bersama AIESEC in Bandung.

Deskripsi Singkat

Kisah Alfatih menaklukkan keraguan diri dan bahasa Inggris lewat AIESEC Future Leaders, hingga tumbuh menjadi pemimpin yang berani mengambil inisiatif..

Tentang Kami

AIESEC adalah organisasi kepemudaan internasional yang bersifat independen, non-politik, dan non-profit, yang dikelola sepenuhnya oleh anak muda. Didirikan pada tahun 1948, AIESEC kini hadir di lebih dari 100 negara dan wilayah, dengan fokus utama pada pengembangan kepemimpinan pemuda melalui pengalaman lintas budaya, proyek sosial, dan program pengembangan diri. AIESEC berlandaskan pada nilai-nilai kepemimpinan, keberagaman, integritas, dan keberlanjutan, serta berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Informasi Kontak

Untuk informasi maupun kerjasama lebih lanjut mengenai AIESEC in Bandung silahkan hubungi bagian Public Relations AIESEC in Bandung, melalui kontak berikut ini:

Alya Lubna Putri Hanafiah

Team Leader of Public Relations

Telepon : +62 813-1997-0284

Email : lubnahanafiah@gmail.com

You might also like