Ketika Media Sosial Mengubah Makna Kesuksesan

63

Oleh: Athaillah Safira Putri*

“Usianya baru 22 tahun, tapi sudah bekerja di perusahaan multinasional.”

“Teman seangkatan sudah wisuda dengan predikat cum laude.”

“Dia sudah punya bisnis sendiri dan penghasilannya puluhan juta setiap bulan.”

Kalimat-kalimat semacam itu mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk kita temui ketika membuka media sosial. Namun, tidak jarang beberapa detik tersebut cukup untuk membuat seseorang mempertanyakan dirinya sendiri. “Mengapa aku belum sampai di sana?” atau “Apa aku tertinggal?”

Media sosial memang membawa banyak manfaat. Informasi menjadi lebih mudah diakses, relasi dapat terjalin tanpa batas geografis, bahkan berbagai peluang karier dan pendidikan dapat ditemukan hanya melalui satu aplikasi. Namun, di balik manfaat tersebut, media sosial juga menghadirkan ruang yang secara perlahan mengubah cara kita memandang kesuksesan.

Hari ini, kesuksesan tidak lagi hanya dinilai dari apa yang benar-benar kita capai, tetapi juga dari apa yang tampak di layar. Unggahan mengenai kelulusan, promosi jabatan, perjalanan ke luar negeri, hingga pencapaian finansial memenuhi linimasa setiap hari. Akibatnya, standar keberhasilan yang semula bersifat personal perlahan bergeser menjadi sesuatu yang ditentukan oleh apa yang dilakukan orang lain.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Social Comparison Theory yang dikemukakan Leon Festinger (1954). Menurut teori tersebut, manusia memiliki kecenderungan alami untuk mengevaluasi dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Perbandingan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang keliru. Dalam kondisi tertentu, melihat keberhasilan orang lain dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi.

Namun, media sosial mengubah skala perbandingan itu. Jika dahulu seseorang hanya membandingkan dirinya dengan teman sekolah, tetangga, atau rekan kerja, kini ia membandingkan dirinya dengan ratusan, bahkan ribuan orang setiap hari. Lebih dari itu, yang dibandingkan bukanlah kehidupan secara utuh, melainkan potongan-potongan terbaik yang sengaja dipilih untuk ditampilkan.

Ironisnya, kita sering kali membandingkan proses hidup yang penuh ketidakpastian dengan hasil akhir yang telah dikurasi oleh orang lain.

Di sinilah pemikiran filsuf Erich Fromm dalam To Have or To Be? (1976) menjadi relevan. Fromm menjelaskan bahwa masyarakat modern cenderung hidup dalam orientasi having, yaitu menilai diri berdasarkan apa yang dimiliki: harta, jabatan, gelar, hingga pengakuan sosial. Dalam orientasi ini, seseorang merasa semakin bernilai ketika semakin banyak hal yang berhasil ia kumpulkan.

Media sosial memperkuat cara pandang tersebut. Jumlah pengikut, tanda suka, pencapaian akademik, maupun gaya hidup perlahan berubah menjadi simbol keberhasilan. Tanpa disadari, ukuran kesuksesan bergeser dari pertanyaan “Siapa aku?” menjadi “Apa yang berhasil aku tunjukkan kepada orang lain?”

Padahal Fromm justru menawarkan orientasi yang berbeda, yaitu being. Menurutnya, manusia akan menemukan kehidupan yang lebih bermakna ketika berfokus pada proses menjadi diri sendiri, membangun relasi yang autentik, serta mengembangkan potensi yang dimiliki, bukan sekadar mengejar pengakuan dari luar.

Sayangnya, budaya media sosial sering kali membuat orientasi being kalah oleh orientasi having. Kita lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter. Kita lebih khawatir terlihat tertinggal daripada benar-benar memahami ke mana arah hidup yang ingin kita tuju. Tidak mengherankan jika berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang disertai perbandingan sosial secara terus-menerus berkaitan dengan meningkatnya rasa tidak puas terhadap diri sendiri, kecemasan, bahkan gejala depresi.

Persoalannya bukan karena orang lain membagikan pencapaiannya. Setiap orang berhak merayakan keberhasilannya. Yang perlu kita waspadai adalah ketika pencapaian orang lain berubah menjadi standar mutlak untuk menilai kehidupan kita sendiri. Sebab setiap individu memiliki latar belakang, kesempatan, tantangan, dan garis waktu yang berbeda.

Media sosial memang dapat menunjukkan seberapa jauh orang lain telah berjalan. Namun, media sosial tidak pernah benar-benar mampu menunjukkan seluruh perjuangan yang mereka lalui untuk sampai di titik tersebut. Ketika kita lupa akan hal itu, yang lahir bukan lagi motivasi, melainkan rasa kurang yang terus-menerus.

Mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi “Mengapa hidupku belum seperti mereka?”, melainkan, “Apakah aku sedang menjalani kehidupan yang benar-benar bermakna menurut versiku sendiri?”

Pada akhirnya, kesuksesan bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling cepat atau paling terlihat berhasil. Kesuksesan adalah kemampuan untuk bertumbuh sesuai nilai yang kita yakini, tanpa harus kehilangan diri sendiri di tengah derasnya arus perbandingan.

*Penulis merupakan mahasiswa S1 Psikologi angkatan 2024

Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis yang bersangkutan

You might also like