Dalam Bayang-Bayang yang Disembunyikan
Oleh: Rina Dwi Agustina*
*Reporter Magang Isola Pos
Judul Film : Shutter (2025)
Sutradara : Herwin Novianto
Penulis : Alim Studio
Pemeran : Vino G. Bastian, Niken Anjani, Anya Geraldine
Durasi : 1 Jam 29 Menit
Tayang : 30 Oktober 2025 (Bioskop), 27 Februari 2026 (Netflix)
Pernahkah sesuatu dari masa lalu terasa benar-benar selesai? Atau justru diam, menunggu waktu untuk kembali hadir dalam bentuk yang berbeda? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering diajarkan untuk “melanjutkan hidup” tanpa benar-benar menyelesaikan apa yang telah terjadi. Menyimpan, mengubur, dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, bagaimana jika yang kita sembunyikan justru menemukan caranya sendiri untuk kembali?
Hal inilah yang menjadi inti dari film Shutter (2025), sebuah adaptasi dari film horror Thailand yang telah lebih dulu dikenal luas. Film ini mengikuti kisah Darwin, seorang fotografer yang hidupnya berubah setelah mengalami kecelakaan misterius bersama kekasihnya. Sejak kejadian itu, foto-foto yang ia ambil mulai menangkap sesuatu yang tidak kasat mata yaitu sosok perempuan yang perlahan hadir, bukan hanya dalam kamera tetapi juga dalam hidupnya.
Alih-alih hanya mengandalkan elemen horror konvensional, Shutter membangun ketegangan melalui pendekatan psikologis. Rasa takut tidak datang secara tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan seiring dengan terbukanya lapisan demi lapisan masa lalu yang selama ini tersembunyi. Dan justru itu yang membuatnya lebih mengganggu. Kamera dalam film ini bukan sekedar alat, tetapi menjadi medium pengungkapan bahwa ada hal-hal yang mungkin tidak terlihat namun tetap ada dan nyata. Namun, kekuatan Shutter tidak berhenti pada aspek horror semata. Di balik terror yang dihadirkan, film ini menyisipkan isu yang jauh lebih dekat dengan realitas, khususnya di lingkungan kampus: pelecehan seksual yang ditutupi oleh institusi. Isu ini tidak ditampilkan secara eksplisit di permukaan, tetapi terjalin dalam narasi yang perlahan mengarah pada kebenaran yang tidak nyaman.
Kehadiran tokoh mahasiswa jurnalistik di film ini menjadi penting. Ia bukan sekedar pelengkap cerita, melainkan simbol upaya mengungkap kebenaran. Di tengah kecenderungan untuk menutup-nutupi kasus demi menjaga citra, peran jurnalis bahkan di tingkat mahasiswa menjadi krusial. Film ini secara tidak langsung menggambarkan bagaimana kebenaran sering kali bukan sesuatu yang mudah untuk diungkap, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan bahkan dengan risiko tertentu. Situasi ini terasa dekat dengan realitas di kampus. Tidak sedikit kampus yang berhenti di tengah jalan, bukan karena tidak ada bukti, tetapi karena tidak ada ruang yang aman untuk bersuara. Dan disitulah masalahnya. Kebenaran sering kali tidak diberi ruang. Dalam situasi seperti ini, pers mahasiswa memiliki posisi yang penting sebagai ruang alternatif untuk menyampaikan fakta yang terpinggirkan. Shutter dalam hal ini dapat dibaca sebagai sebuah kritik terhadap budaya bungkam yang masih mengakar.
Film ini cukup berhasil membangun atmosfer yang mencekam melalui pencahayaan dan komposisi visual yang kuat. Setiap adegan terasa dirancang untuk mempertahankan ketegangan tanpa harus bergantung pada jump scare berlebihan. Akting Vino G. Bastian juga mampu membawa emosi yang kompleks, terutama dalam menggambarkan konflik batin dan rasa bersalah yang terus menghantui.
Pada akhirnya, Shutter (2025) bukan hanya tentang sosok yang tertangkap kamera, tetapi tentang bagaimana masa lalu yang tidak diselesaikan akan selalu mencari cara untuk muncul kembali. Film ini juga menjadi pengingat bahwa kebenaran, seberapa pun tidak nyamannya, tidak akan benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk ditemukan dan di situlah peran penting jurnalisme, termasuk jurnalisme kampus, menjadi relevan. Shutter menghadirkan horror yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga mengajak penonton untuk melihat lebih jauh yang tidak hanya ke dalam layar, tetapi juga ke dalam realitas yang sering kali kita abaikan. Karena yang paling menyeramkan bukanlah yang terlihat, melainkan yang sengaja disembunyikan.
Editor: Sennita T.D.