Berteater Lewat Naskah Terjemahan

313
Pertunjukan teater “Buried Child (Anak yang dikuburkan)” di Auditorium A Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia, Kamis (22/5).

Bumi Siliwangi, isolapos.com-

Siang itu, di Auditorium A Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ratusan penonton sudah memadati Auditorium di sayap kanan lantai empat FPBS. Mereka akan menyaksikan pertunjukan teater yang dipersembahkan oleh CD Teater Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan English Literature Forum Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris UPI.

Disutradarai oleh Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Marsten L. Tarigan, pertunjukan teater ini mengambil dari naskah terjemahan Amerika yang dikarang oleh Sam Shepard. “Buried Child (Anak yang Dikuburkan)” merupakan judul naskah sekaligus judul pertunjukan yang tayang pada Rabu dan Kamis (21-22/5). Kisah ini bercerita tentang  keluarga yang berantakan karena adanya kekecewaan dari pihak keluarga karena menguburkan seorang anak, salah satunya dari anak sulung pembunuhnya Tildan (Sofyan Widianto). Hingga pada akhirnya, pembunuhan itu tak lagi jadi sebuah rahasia pribadi,  namun menjadi rahasia umum yang semua tokoh tahu.

Diperankan oleh Sally (Audry Juliane) rahasia pun terkuak sebab ayah Tildan yaitu Dodge (Fuad Jouhari) mengakui bahwa peristiwa itu benar adanya, meski telah ditutupi selama bertahun-tahun lamanya. Dibungkus dengan gaya surealis di beberapa bagian, teater ini memberikan kesempatan untuk penontonnya menginterpretasikan maksud yang ingin disampaikan. “Beberapa adegan memang ada dan cocok untuk dipindahkan, tak harus selalu realis,” kata Marsten.

Menurut Marsten, latar belakang mengapa pihaknya mengambil naskah terjemahan karena pementasan ini sebagai ajang mempelajari kesusatraan antara Amerika dengan Indonesia. Meskipun naskah ini tak mengubah latar sosial Amerika, namun menurut Marsten saat proses penerjemahan naskah ini, ada hal yang  berbeda. “ Kesulitannya saat menerjemahkan, sedangkan penggarapan pertunjukan sama saja,” tutur Marsten yang saat ini sedang membenahi perkuliahannya.

Apresiasi pun lahir dari penonton. Garapan yang menghabiskan waktu sampai empat bulan ini, menurut M. Fariz, aksi para aktor memang bagus, namun kata dia, dari segi alur dan konflik begitu membingungkan. “Kalau yang buta drama kan, surealis membuat gak ngerti,” katanya. [Noval Prahara Putra]


Comments

comments