“Fenomena Nomophobia : Ancaman Nyata Generasi Masa Kini”

62

Tim PKM-RSH UPI yang terdiri dari Sarah Raudlatul Aulia (PKn) sebagai ketua, beranggotakan Putri Minda C (PKn), Rian Juniawan (PKn), Susan Susanti (Sosiologi), dan Nadila Maulida Fadilah (Psikologi) melakukan riset terkait bagaimana kecanduan smartphone dapat berpengaruh terhadap pembentukan civic disposition pada iGeneration.

Sarah dkk. melakukan riset dengan melibatkan iGeneration di Kota Bandung, di bawah bimbingan Dr. Sri Wahyuni Tanshzil, S.Pd., M.Pd. (Dosen Prodi Pendidikan Kewarganegaraan UPI). Riset ini berangkat dari fenomena nomophobia yang acap kali menimpa iGeneration selaku generasi penerus yang akan membawa perubahan bagi bangsa dan negara. Hasil riset yang dilakukan oleh Sarah dkk. menunjukkan bahwa ada keterkaitan dan pengaruh nomophobia terhadap civic disposition pada iGeneration di era Mondial.

Smartphone telah memberikan banyak kemudahan bagi para penggunanya. Namun, selain membawa manfaat, penggunaan smartphone dengan intensitas tinggi dapat berdampak bagi psikologis penggunanya berupa ketergantungan. Fenomena ini disebut nomophobia. Lebih lanjut, fenomena nomophobia dapat berdampak buruk bagi perkembangan pembentukan karakter warga negara (civic disposition) dan identitas diri iGeneration dari masa remaja hingga dewasa,” terang Sarah mewakili tim.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan Sarah dkk. dengan Dr. Sri Wahyuni Tanshzil, S.Pd., M.Pd. (Dosen Prodi Pendidikan Kewarganegaraan UPI), Civic disposition berperan penting sebagai bagian dari kepribadian yang mencerminkan keterlibatan dan tanggung jawab dalam masyarakat dalam era digital ini. Namun, dampak negatif nomophobia pada iGeneration dapat mempengaruhi perkembangan civic disposition mereka.

Ketergantungan pada ponsel pintar dan media sosial seringkali menyebabkan isolasi sosial, di mana individu lebih suka berinteraksi melalui layar daripada secara langsung. Hal ini dapat menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial yang diperlukan dalam membentuk civic disposition yang kuat. Selain itu, konsumsi berlebihan terhadap konten digital yang seringkali bersifat dangkal juga dapat mengurangi minat dalam isu-isu sosial yang lebih mendalam.

Untuk mengatasi dampak negatif ini, perlu ada upaya sadar untuk mengembangkan keseimbangan antara teknologi dan interaksi sosial langsung. Pendidikan yang mendorong pemahaman tentang nilai-nilai kewarganegaraan, pengembangan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi digital, dan pelatihan dalam berkomunikasi secara efektif menjadi kunci dalam membangun civic disposition yang kuat pada iGeneration.

Mengatasi dampak nomophobia terhadap civic disposition pada  iGeneration adalah tantangan yang kompleks, tetapi bukan tidak mungkin. Pertama-tama, pendidikan dan kesadaran tentang pentingnya keseimbangan antara dunia digital dan interaksi sosial nyata perlu ditanamkan sejak dini. Sekolah dan keluarga dapat berperan penting dalam membantu generasi iGeneration mengembangkan kemampuan untuk mengelola penggunaan perangkat digital secara bijak.

Tim PKM-RSH UPI mencoba memberikan informasi mengenai fenomena nomophobia yang tidak boleh diabaikan, terutama ketika kita membicarakan dampaknya terhadap keterlibatan sosial dan kewarganegaraan pada iGeneration. Dengan pendidikan yang tepat dan kesadaran yang meningkat, kita dapat membantu generasi ini mengatasi tantangan tersebut dan menjaga semangat civic disposition yang aktif dalam era digital yang terus berkembang.

Comments

comments