Oleh: Amelia W., Davina S.F., Naufal F., & Rakha A.D.
Bandung, Isolapos.com—Pada Senin dan Selasa pagi (12–13/01), Actant Initiative mengadakan Pelatihan Pengumpulan dan Analisis Data Media Sosial. Kegiatan ini diikuti sekitar 20 peserta via daring (Zoom Meeting). Para peserta pelatihan tersebut berasal dari mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (Fikom Unpad) dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di Bandung.
Pelatihan Riset Media Sosial ini diselenggarakan dalam rangka meningkatkan kapasitas mahasiswa dan LPM dengan keterampilan teknis dan metodologis pengumpulan data yang bersumber dari media sosial. Menurut Detta, Direktur Actant Initiative, Persma dan mahasiswa nantinya diharapkan dapat menemukan solusi dari permasalahan yang ramai di media sosial.
“Kegiatan hari ini itu salah satunya kami maksudkan untuk terutama memperkuat dari Persma kemudian dari mahasiswa yang lain juga untuk bisa mengenali lebih dalam isu-isu publik, isu-isu yang kemudian ramai berkembang, terutama di media digital,” ungkap Detta.
Pemateri pada pelatihan ini, yaitu Rudi. Rudi merupakan seorang peneliti Pengembagan Komunikasi yang berspesialisasi dalam diskursus digital dan produksi pengetahuan untuk advokasi.
Pelatihan pada hari pertama membahas cara memahami media sosial dari sisi platform, algoritma, dan affordance; perbedaan visibilitas, sirkulasi, dan wacana dalam analisis isu politik, lingkungan, dan aktivisme; serta prinsip dasar desain query dalam riset media sosial berbasis platform.
Rudi mengatakan riset media sosial memiliki tantangan yang cukup besar 4 tahun terakhir karena perubahan kebijakan platform, rate limits, dan pembatasan Application Programming Interface (API).
“API ini semacam akses yang membuat kita bisa mengambil data (misalnya di) Twitter dengan beberapa alat atau tools,” kata Rudi.
Rudi mengutarakan platform seperti Twitter, Instagram, YouTube, dan TikTok membatasi peneliti untuk menggali isu-isu penting karena pembatasan API tersebut. Selain itu, akses ke sumber data lengkap pun mahal.
Rudi juga menjelaskan limitasi riset pada tiap platform dengan bantuan Zeeschuimer, alat untuk mengumpulkan data dari media sosial. Pada Twitter (X), kita bisa mengambil tweet yang tampil di layar, seperti hasil pencarian, hashtag, dan akun. Namun, tidak bisa mengakses seluruh tweet tentang suatu isu. Kemudian pada Instagram, kita bisa mengumpulkan data dari feed, hashtag, dan profil akun. Namun, tidak bisa menangkap data dari cerita Instagram dan reels secara stabil. Konten yang muncul di Instagram pun bergantung pada algoritma akun yang digunakan. Pada Tiktok, kita bisa menangkap video, profil akun, dan For Your Page (FYP). Namun, TikTok tidak bisa langsung mencari beberapa keyword dan tidak memiliki fitur tanggal. Data pada Tiktok bergantung pada akun yang digunakan, lokasi, dan waktu akses. Karena itu, Rudi menyarankan menggunakan akun baru (kosong).
Pada hari kedua pelatihan, peserta melakukan praktik langsung cara mengambil data di tiga media sosial, yaitu Twitter, Instagram, dan TikTok menggunakan Zeeschuimer. Kemudian, mengekspor hasilnya ke dalam format csv. Setelah itu, merapikan data di Excel dan menganalisis data menggunakan pivot table.
Output pelatihan ini adalah peserta individu membuat mini riset, sedangkan peserta dari Pers Mahasiswa membuat artikel populer dari isu yang dianalisis dan liputan kegiatan.
Davina, salah satu peserta pelatihan mengungkapkan dirinya mendapatkan pengetahuan baru dari pelatihan ini. “Aku kira filtrasi kayak Google Advanced cuma bisa di web Google doang, ternyata bisa juga di X,” tulis Davina pada laman refleksi padlet. Hal yang sama dirasakan Grace. Ia jadi mengetahui bahwa riset di media sosial luas, tidak terbatas pada FYP dan engagement.
Actant berharap pelatihan ini dapat memperkuat kapasitas LPM dalam memanfaatkan data media sosial untuk menghasilkan karya yang lebih tajam dan reflektif, merepresentasikan kegelisahan publik terhadap isu-isu yang dianggap penting, serta meningkatkan kemampuan dalam menangkap dan menganalisis diskursus publik di ranah digital. Dengan demikian, LPM tetap relevan terhadap perkembangan riset di era digital sekaligus peka terhadap fenomena yang berlangsung di ruang media sosial sekitarnya.
Sekilas tentang Actant Initiative
Actant Initiative adalah lembaga konsultasi strategi komunikasi yang berangkat dari konsep actant. Lembaga ini berfokus pada komunikasi yang sifatnya untuk membantu berbagai persoalan atau permasalahan yang ada di publik. Informasi lengkap tentang Actant Initiative bisa ditemukan di actant.i
Editor: Sanjaya S.P.
Ilustrator: Davina S.F.