Nightcrawler: Kode Etik Jurnalis yang Terkikis
Oleh: Davina Salsabila F
Judul film: Nightcrawler
Tahun produksi: 2014
Sutradara: Dan Gilroy
Pemeran: Jake Gyllenhaal, Rene Russo, Riz Ahmed, Bill Paxton
Durasi: 117 menit
Tayang: 5 September 2014 (Festival Film Internasional Toronto) dan 31 Oktober 2014 (Amerika Serikat)
Dalam Film Nightcrawler sang peran utama Louis digambarkan seorang pemula yang menjadi sukses dalam bidang jurnalistik. Louis sendiri digambarkan sebagai orang yang tidak taat aturan, memiliki keterampilan bicara, dan berani melakukan segala cara untuk mendapatkan yang dia inginkan. Kepribadian tersebut akhirnya mempengaruhi bagaimana cara Louis dalam melakukan praktik jurnalistik.
Louis dalam menjalankan aksinya tidak mempedulikan etika seorang jurnalis dan seringkali memanipulasi tempat kejadian perkara (TKP) menjadi lebih dramatis, sehingga bayaran yang dia dapat menjadi lebih tinggi. Selain menyalahi etika jurnalistik tentu hal tersebut merupakan pembohongan publik, karena tentu rekaman yang diambil oleh Louis pada akhirnya bukanlah berita murni yang akhirnya membodohi publik.
Selain itu pada praktiknya Louis bahkan sampai menyembunyikan fakta dan bukti tentang penembakan pada 3 korban di sebuah rumah mewah. Namun bukannya memberikan rekaman tersebut sebagai bukti kepada polisi atau memberikannya kepada stasiun TV untuk diberitakan dengan jelas agar pelaku segera ditangkap. Louis memilih memotong rekaman tersebut dan merencanakan sebuah skenario yang dapat menguntungkannya. Selain itu Louis menekan pihak stasiun TV untuk memenuhi keinginannya.
Akibat dari perbuatannya tersebut bukan hanya merugikan pihak kepolisian, namun menyebabkan karyawannya mati saat mengejar pelaku. Kejadian tersebut bukannya merasa bersalah atau lebih memperhatikan praktik jurnalistik yang dilakukannya Louis memilih mengabaikannya dan terus melakukan praktik jurnalistik tersebut tanpa memperhatikan aspek jurnalistik yang sebenarnya.
Perbuatan yang dilakukan Louis tentu bukanlah sebuah praktik jurnalistik yang benar dan mengabaikan sifat humanis manusia. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa praktik jurnalistik seperti itu telah banyak dilakukan dan tidak banyak diperhatikan. Selain membahayakan banyak pihak, praktik ini tentunya merugikan publik yang dibohongi dengan berita yang digiring oleh rekaman Louis tersebut.
Dan pada akhirnya semua keputusan dan perbuatan yang dilakukan oleh jurnalis maupun publik mempengaruhi setiap tayangan yang hadir dikehidupan kita. Maka sebagai praktisi ataupun penonton sudah seharusnya kita memilah dan mengidentifikasi lebih teliti setiap kejadian yang ada di sekitar kita.
Film Nightcrawler bukan hanya sebuah tontonan thriller kriminal yang menegangkan, tetapi juga kritik tajam terhadap dunia jurnalistik modern yang kerap mengutamakan sensasi dibanding kebenaran. Film ini memperlihatkan bagaimana ambisi, manipulasi, dan pengabaian etika dapat merusak integritas profesi jurnalis dan membahayakan masyarakat secara luas. Film ini mengajak kita untuk merefleksikan nilai-nilai moral dan profesional yang seharusnya dijunjung tinggi dalam praktik jurnalistik. Pada akhirnya, Nightcrawler adalah pengingat bahwa kebenaran dan tanggung jawab sosial harus selalu menjadi fondasi dalam setiap bentuk pemberitaan.
Editor: Sennita Tya Divany