Omong Kosong Kepedulian Isu Sampah di Kampus Kita Sendiri

25

Oleh: Raja Wirayuda Kusumanagara*

Suatu sore di dekat gedung Ahmad Sanusi, saya berdiri sebentar di depan tiga kotak sampah yang berjajar rapi dengan warna berbeda. Hijau untuk organik, kuning untuk non-organik, merah untuk residu. Saya buka kotak hijau berlabel organik, isinya kantong plastik, box styrofoam bekas nasi, dan botol minuman. Saya coba yang kuning, isinya tak jauh berbeda begitupun yang merah, sama saja. Tiga kotak berbeda warna, tetapi satu cara membuang yang sama.

Ini bukan kejadian tunggal yang saya tangkap di momen yang salah. Selama satu bulan lamanya, saya secara konsisten mengamati kondisi tempat sampah di beberapa titik di lingkungan UPI seperti di dekat Isola, FPTI, FPIPS, FPSD, hingga titik-titik lain yang tersebar di sepanjang jalan dan fakultas kampus. Temuannya tidak pernah berubah selama satu bulan, sampah plastik, styrofoam, dan kemasan makanan selalu hadir di ketiga jenis kotak tanpa terkecuali.

Fasilitas yang disediakan UPI sudah lebih dari cukup. Tiga kategori sampah dengan label yang terbaca jelas bukan hal yang remeh. Labelnya terbaca serta letaknya jelas, tidak ada satu pun hambatan teknis yang mencegah seseorang membuang sampah ke tempat yang benar. 

Satu bulan adalah waktu yang cukup untuk menyimpulkan ini bukan kebetulan, melainkan sebuah pola. Permasalahannya bukan tidak ada fasilitas, tetapi apatisme. Ini penting untuk ditegaskan karena kita sering berlindung di balik alasan ketiadaan fasilitas untuk tidak bertindak. Pertanyaannya hanya satu, mau atau tidak?

Di satu sisi, mahasiswa kampus ini bisa menghabiskan berjam-jam berdebat soal krisis iklim di ruang kelas, atau dengan mudah berbagi infografis lingkungan di media sosial. Namun, di sisi lain semua itu mendadak tidak relevan saat berdiri di depan tiga kotak sampah. Kepedulian lingkungan yang tidak pernah turun dari layar ke tindakan nyata bukan kepedulian melainkan sebuah pertunjukan. 

Kepedulian yang hanya hidup dalam ruang hampa media sosial tanpa manifestasi pada perilaku harian, hanyalah sebuah etalase moralitas tanpa substansi. Masalahnya bukan lagi pada ketersediaan fasilitas, melainkan pada integritas kita sebagai kaum terdidik. 

Saya juga tidak memungkiri bahwa ada mentalitas yang lebih dalam yang bekerja di sini.

“Ah, nanti ada yang urus.” “Mungkin ada petugas kebersihan yang akan memilah ulang.” “Mungkin tidak akan ada dampaknya kalau cuma saya yang salah kotak.” 

Mungkin ini masalah kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan. Tapi mentalitas itulah masalahnya, karena setiap orang di kampus ini berpikir hal yang sama, dan hasilnya adalah kotak sampah yang tidak pernah benar.

Kita bisa lulus dengan IPK sempurna dan tetap tidak tahu cara membuang sampah dengan benar, itu seharusnya meresahkan.

Kita akan keluar dari sini dan membentuk norma di tempat-tempat yang kita huni berikutnya. Norma dimulai dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan berulang, setiap hari, bahkan saat tidak ada yang melihat. 

Apatisme sering datang pelan-pelan dalam bentuk ketidakpedulian terhadap hal-hal kecil. Saat abai terhadap hal kecil sudah menjadi kewajaran, tidak perlu heran kalau abai terhadap hal yang jauh lebih besar datang tanpa terasa.

Kota Bandung sudah berulang kali diingatkan keras mengenai permasalahan sampah. Mulai dari krisis TPA Sarimukti, tumpukan sampah yang meluber ke jalan, hingga banjir yang sebagiannya dipicu oleh sampah yang salah buang. Jika mahasiswa, yang notabenenya adalah agent of change, masih tidak bisa memilah sampah di tempat yang sudah disediakan, dari mana perubahan itu seharusnya dimulai?

Saya menulis ini bukan dari posisi yang merasa lebih baik dari siapapun. Saya tahu rasanya terburu-buru di antara kelas, makan siang di jalan, dan membuang sampah tanpa berpikir panjang. Bedanya mungkin hanya ini, saya melihat ke dalam kotak itu, dan merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan itulah yang mendorong saya menulis ini.

Kondisi tempat sampah di UPI adalah cermin dari norma sosial yang sedang kita bangun. Cermin itu kini memperlihatkan sesuatu yang tidak nyaman, bahwa tanggung jawab terhadap ruang bersama belum benar-benar kita pegang. Jika pembaca merasa tersindir setelah membaca ini, itu adalah sinyal bagus. Rasa tidak nyaman adalah awal dari kesadaran.

Tiga kotak sampah itu tidak membutuhkan teknologi canggih atau anggaran tambahan untuk berfungsi. Ia hanya membutuhkan satu hal yang seharusnya melimpah di kampus yang diisi oleh ribuan orang terdidik, yaitu niat. 

Apakah kita mau menjadi mahasiswa yang hanya tahu berbicara tentang perubahan? Atau cukup jujur untuk memulai dari hal paling sederhana di depan mata?

Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis yang bersangkutan

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Penjurusan Jurnalistik UPI

Ilustrator: Ibrahim

You might also like