Bagaimana Karakter Pelajar Indonesia Sekarang?

233
Sukro saat memberikan pematerian dalam acara Seminar Nasional Pendidikan di Auditorium JICA Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UPI, Sabtu (16/11).

Bumi Siliwangi, isolapos.com

“Bagaimana karakter pelajar kita sekarang?” tanya Ketua Umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia, Sukro Muhab di hadapan para peserta Seminar Nasional Pendidikan, Sabtu (16/11) di Auditorium Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kegiatan tersebut diselenggarakan Indonesia Juara Foundation yang bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa UPI.

Menurut Sukro, para pelajar Indonesia saat ini cenderung pemalas, tidak memiliki kemauan yang tinggi, dan minimnya spirit bekerja sama. “Sekarang yang ada berkompetisi bukan bekerja sama, semut pun bisa bekerja sama,” tuturnya. Ia menuturkan bahwa para pelajar sekarang  memiliki kecerdasan intelektual yang lebih rendah dibanding kecerdasan sosial. “Karena dari kecil mereka tidak dilatih untuk kreatif,” ujarnya.

Sebetulnya, lanjut Sukro, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing yang kuat. Ia mengatakan bahwa pendidikan Indonesia mengalami kenaikan dan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan daya saing Indonesia selama periode 2009-2010 dan 2010-2011. Meski begitu Indonesia masih jauh dibanding negara-negara lain. Dari jumlah peneliti yang dimiliki, Indonesia jauh dibawah Jepang, Malaysia, dan Singapura. Jepang memiliki 839 peneliti, Malaysia dengan 503 peneliti dan Singapura 500 peneliti untuk satu juta penduduknya. Sedangkan Indonesia hanya 200 peneliti untuk satu juta penduduk.

Oleh karena itu, Sukro menuturkan karakter para pelajar Indonesia saat ini pun perlu ditingkatkan. “SDM  (sumber daya manusia-red) unggul merupakan aset utama negara,” kata Sukro. Hal utama yang harus diperbaiki adalah kepribadian. Setelah anak memiliki kepribadian yang baik dia bisa bersaing dengan baik. “Itulah yang dilakukan negara-negara lain dalam pendidikannya,” ucapnya. [Melly A. Puspita]

Comments

comments