Sekretariat Disegel, BEM Rema Minta Audiensi

147
Dede Fathah, Presiden BEM Rema UPI, di depan Gedung PKM, Kamis (3/9) malam, saat memberikan klarifikasi terkait penyegelan sekretariat BEM Rema UPI
Dede Fathah, Presiden BEM Rema UPI, di depan Gedung PKM, Kamis (3/9) malam, saat memberikan klarifikasi terkait penyegelan sekretariat BEM Rema UPI

Bumi Siliwangi, Isolapos.com

Menindak lanjuti penyegelan Sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Republik Mahasiswa (Rema) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Selasa (1/9) malam, jajaran pengurus BEM Rema mengambil sikap. Mereka meminta dukungan kepada Himpunan Mahasiswa Program Studi/ Departemen yang ada di UPI dengan dibuatnya surat petisi ihwal peristiwa itu lalu disebarkan melalui akun media sosialnya.

BEM Rema menganggap tindakan itu melanggar peraturan Disiplin Mahasiswa UPI 2014 pasal 17 (1) tentang Larangan Umum, melakukan tindakan vandalism terhadap sarana dan prasarana milik universitas.

Pada Rabu (2/9) sore, puluhan mahasiswa nampak berkerumun di selasar PKM. Kala itu, pengurus BEM Rema dan partisipan dari berbagai himpunan mahasiswa sedang berkonsolidasi.  Mereka sepakat mengadukan kejadian penyegelan ke Komisi Disiplin UPI. “Ini jelas perbuatan vandalisme maka dari itu mari kita sama-sama melaporkan ke komisi disiplin (Komdis),” cetus Muhammad Guntur, Menteri Dalam Negeri BEM Rema, sambil mengajak rekan-rekannya menuju Gedung Rektorat UPI.

Sesampainya di Gedung Rektorat, mereka bertemu dengan puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Senat Fakultas FPIPS, FPOK, dan FPTK yang menyegel sekretariat BEM Rema. Perwakilan kedua belah pihak pun diminta melakukan audiensi dengan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Asep Kadarohman. Namun, Asep pun sempat menunda audiensi tersebut beberapa menit. Saat hendak dilakukan audiensi, kedua perwakilan senat tak datang, dan audiensi pun batal. Menanggapi masalah tersebut, Asep enggan memberi komentar. “Jangan dulu comment dong,” tungkasnya.

Menanggapi hal tersebut, Presiden BEM Rema, Dede Fathah mengatakan akan tetap menunggu dari pihak terkait dan berharap obrolan tersebut bisa berlanjut dan mencari solusi terbaik. “Kita terima dengan terbuka, kok,” ucapnya. Vina Dwiyanti, Wakil Presiden BEM Rema pun mengamini apa yang Dede ungkapkan. “Jujur ya saya kecewa gitu dengan perilaku penyegelan dengan mengatasnamakan warga UPI,” tutupnya.

Ketua Himpunan Departemen Pendidikan Bahasa Daerah, Deska Mahardika menyetujui tindak lanjut dari peristiwa penyegelan tersebut. Menurutnya jika dibiarkan, permasalahan ini akan meluas dan berkepanjangan, namun alangkah baiknya diselesaikan dengan asas kekeluargaan dengan dipertemukannya kedua belah pihak tanpa melibatkan pihak lain. “Setuju aya tindak lanjut mah ngan ulah waka nepika Komdis (setuju ada tindak lanjutnya, tetapi jangan dulu sampai pada komdis-red)”, ujarnya kepada isolapos.com.

Seakan menemukan titik terang dari perselisihan antara Senat Fakultas dan BEM Rema, Kamis (3/9) sore banyak mahasiswa yang berkerumun di Gedung PKM, menunggu dimulainya diskusi yang dijanjikan pada rabu (2/9). Setelah menunggu selama hampir dua jam sebelum adzan maghrib, akhirnya diskusi pun dilaksanakan. Diskusi yang disepakati berlangsung di Gedung PKM, secara mendadak pindah menuju taman di depan Gedung PKM. Hal itu dilakukan untuk mencegah keributan seperti hari-hari sebelumnya. Awalnya, suasana diskusi terkendali, Dayat dari UKSK yang menjadi moderator pada waktu itu bisa menyetir jalannya diskusi sampai pada akhirnya ada istirahat karena adzan isya.

Di lain tempat, sebelum diskusi dimulai kembali, para mahasiswa dan pengurus BEM Rema menyelenggarakan pengajian yassin di selasar Gedung PKM. Pengajian ini diselenggarakan atas inisiatif dari mahasiswa yang diinstruksikan oleh Tirta, Ketua Senat FPIPS. Dia menyatakan hal ini adalah bentuk kepedulian terhadap kinerja BEM Rema UPI pada saat ini. “Ini adalah bentuk inisiatif dari FPIPS. Rasa kekecewaan terhadap BEM Rema dan mendoakan agar BEM Rema semakin membaik,” ucapnya.

Disela-sela pengajian yang belum usai, diskusi dilangsungkan kembali, mulanya belum ada tanda-tanda ketegangan pada diskusi. Hingga akhirnya diskusi berjalan alot ketika pembahasan mulai simpang siur, Aep perwakilan dari Senat FPTK merasa kesal terhadap hal ini. “Begini, dari tadi itu bertele-tele ya. Jadi, intinya gini. Bahas satu-satu dulu aja,” tegas Aep. Setelah Dayat mengondisikan diskusi, kejadian yang tak terduga pun terjadi. Kala itu, Vina Dwiyanti selaku wakil dari Presiden BEM Rema angkat kaki menuju Gedung PKM, merasa kesal dan tak dihargai karena ada masa yang sangat banyak datang menghampiri diskusi tersebut. “Lagi-lagi temen-temen tidak memenuhi kesepakatan yang telah ditentukan, saya merasa gak dihargain ya kalau begitu caranya,” teriaknya. Tindakan Vina ini mengakibatkan terjadinya keributan di taman yang kemudian dipenuhi banyak mahasiswa dan seorang satpam pun turut mengondisikan.

Akhirnya, diskusi kembali kondusif  dan dipindahkan ke Sekretariat BEM Rema. Seakan tak ada hentinya, diskusi yang dilanjutkan tetap dalam suasana panas, hanya saja masih bisa kondusif karena ada seorang satpam yang berjaga di luar. Sekitar dua jam berlalu, hasil diskusi didapatkan. Pihak BEM Rema sudah mengklarifikasi permasalahan yang dituntut oleh Senat Fakultas dan akan ditindak lanjuti, Adapun caranya antara lain, melakukan pencarian oknum panitia yang membubarkan mahasiswa baru setelah MOKA-KU di lapangan Gymnasium dan akan memasang baligho permintaan maaf di FPIPS, Jumat (4/9) pagi, kemudian pada siang harinya akan melakukan diskusi kembali terkait buku MOKA-KU bersama Syahroni selaku Kepala Divisi Kemahasiswaan Direktorat Kemahasiswaan. Namun, tuntutan dari BEM Rema tentang penyegelan sekretariatannya berjalan alot karena perwakilan Senat Fakultas merasa dikambinghitamkan, sebab pada waktu itu BEM Rema hanya bertanya kepada Perwakilan Senat saja, sedangkan Senat Fakultas ingin BEM Rema meminta klarifikasi kepada mahasiswa di luar sekretariat.

Awalnya Dede tidak menyepakati, karena dia merasa sudah cukup puas atas pernyataan dari perwakilan Senat Fakultas. Hingga pada akhirnya Dede bersedia diajak keluar gedung untuk menanyakan klarifikasi terkait penyegelan. “Nggak usah lama dan sebagainya, intinya satu pertanyaan. Alasan penyegelan itu apa?” Ungkapnya. Patra, Anggota Senat FPTK mengungkapkan bahwa dirinya merasa kesal karena pada waktu itu BEM Rema yang ditunggu untuk diajak diskusi malah tidak ada kabar, hingga pada akhirnya sekretariatnya pun disegel. “Intinya sih saya meluapkan emosi,” ungkap Patra.

Dede sangat kecewa atas penyegelan sekretariatnya. “Sikap secara pribadi dari saya sangatlah mengecewakan,” begitu ungkapnya. Tetapi, sampai di sini, ternyata masalah masih belum usai. Senat Fakultas merasa belum cukup jelas ikhwal pernyataan kekecewaan Dede terkait penyegelan yang mengatasnamakan pribadi. Mereka ingin Jumat sore ada sebuah pernyataan langsung dari pihak BEM, dan akhirnya Dede pun menyetujuinya. “Oke, tunggu aja,” tegasnya. [Syawahidul Haq]

Comments

comments