Guru Honorer, Para Pengabdi yang (patut) Diakui   

144
Di tengah diskusi Bincang Isola yang dimoderatori oleh Achmad Abdul Basith di Teater Terbuka Museum Pendidikan Nasional UPI, Senin (16/11)
Di tengah diskusi Bincang Isola, dimoderatori oleh Achmad Abdul Basith di Teater Terbuka Museum Pendidikan Nasional UPI, Senin (16/11).

Bumi Siliwangi, isolapos.com– Sebagai bentuk apresiasi terhadap profesi guru, Unit Kegiatan Mahasiswa Unit Pers Mahasiswa (UPM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) didukung oleh PR FM radio menggelar Bincang Isola. Dalam diskusi umum yang bertemakan “Guru Honorer : Buruh atau Pengabdi?”, Ketua Forum Komunkasi Guru Honorer (FKGH) Bandung, Yanyan Herdian mengatakan guru sekalipun itu honorer tetaplah pengabdi. “Sebab kalau buruh, walaupun kami dikategorikan sebagai pekerja yang diakui oleh organisasi buruh dunia, tetapi perhatian terhadap guru honorer tidak seperti terhadap buruh,”  ujarnya saat diskusi, Senin (17/11) malam.

Profesi buruh menurutnya berbeda dengan guru honorer. Profesi Buruh, menurut Yanyan sampai saat ini masih mendapat perhatian khusus dari pemerintah, semisal, ketentuan upah minimal. Namun lain halnya dengan buruh, profesi guru honorer ini belum memiliki posisi penting seperti itu. “Bagi guru honorer, upah tersebut tidak diperhitungkan oleh pemerintah,”  tutur Yanyan.

Senada dengan Yanyan, Sekertaris Jendral Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Iwan Hermawan mengatakan apapun statusnya, guru tetaplah harus dihargai. Ia menambahkan, guru merupakan profesi yang memiliki peran penting dalam membangun peradaban masyarakat. ”Artinya saat ini harus ada bentuk penghargaan, baik dari pemerintah maupun dari masyarakat.” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Ketua pelaksana Bincang Isola UPM UPI Noval Prahara Putra, menuturkan, diskusi ini digelar untuk merekonstruksi kembali makna guru yang sudah mulai menyimpang. Dengan mengangkat tema guru honorer ini, ia berharap profesi guru dapat lebih diapresiasi berbagai pihak, terutama oleh pemerintah.

Diskusi yang diadakan di Teater Terbuka Museum Pendidikan Nasional UPI itu dihadiri oleh FKGH Bandung Yanyan Herdian dan rekan, Sekjend FGII Iwan Hermawan, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI Ahman, dan juga Dekan Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Zakaria Soetedja. Diskusi yang berlangsung mulai pukul 18.30 hingga pukul 22.00 WIB ini dimoderatori oleh Achmad Abdul Basith dari Radio PR FM dan turut dimeriahkan pertujukan musikalisasi puisi dari UKM Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI. [ Irma K.]

Comments

comments