Labschool UPI Tolak Parkir Berbayar

444

Oleh: Salsabilla Ramadhanty Surachman

Bumi Siliwangi, Isolapos.com–  Aksi tolak parkir berbayar yang berlangsung pada Senin (4/2) melibatkan seluruh siswa SMA Labschool UPI. Aksi tersebut merupakan aktualisasi dari kajian yang telah dilakukan oleh forum aksi mahasiswa UPI. Sebelumnya, forum aksi mahasiswa UPI telah membuat kajian sejak Desember 2018 yang dilanjutkan dengan konsolidasi mengenai parkir berbayar pada Kamis (31/1) yang kemudian berlanjut dengan mimbar bebas.

Konsolidasi ketiga yang dilaksanakan Kamis lalu merupakan langkah awal dilaksanakannya mimbar bebas pada hari Senin. Sebelumnya, saat diwawancarai pihak Isolapos, forum aksi mahasiwa UPI tidak berniat melakukan mimbar bebas dengan melibatkan siswa SMA Labschool UPI. “Jadi, kronologisnya gini, awalnya kami mengikuti rute aksi mimbar bebas. Awalnya kan dari PKM, di sana mungkin hanya ada 15 orang. Saat kami mengikuti rute dan kebetulan melewati SMA, inisiatiflah kami berorasi di sana.” jelas Ilham selaku koordinator mimbar bebas. Rute yang dimaksud mencakup seluruh daerah UPI hingga berakhir di gedung rektorat.

Ilham kemudian menjelaskan bahwa lahan parkir merupakan milik seluruh civitas akademika UPI. Dengan diberlakukannya sistem parkir berbayar, yang dirugikan bukan mahasiswa saja. Tak hanya itu, orasi yang disampaikan oleh forum aksi mahasiswa UPI menyangkut kebijakan nonsektoral. Ia mengaku bahwa siswa SMA Labschool telah dirugikan karena adanya kebijakan parir berbayar. “Saat di Kopma bertemu satpam terus nyuruh anak SMA buat ikut. Pas diajak ternyata bener. Siswa-siswa Labschool diarahkan oleh staf kesiswaan untuk melakukan aksi. Karena siswa SMA labschool sangat dirugikan.” ujar Ilham. Pasalnya, siswa SMA Labschool rata-rata harus membayar 7-17 ribu per hari hanya untuk parkir.

Aksi mimbar bebas tersebut menjaring siswa SMA Labschool secara spontan dan antusias, juga diapresiasi dengan baik oleh pihak sekolah. Pihak sekolah meminta mahasiswa dari kesatuan forum aksi tersebut, untuk memobilisasi siswa yang akan mengikuti aksi mimbar bebas. Pihak sekolah menambahkan, bahwa siswa SMA Labschool yang bertempat tinggal jauh sering terlambat karena harus mengantri mengambil tiket parkir.

Lebih lanjut ia menuturkan, siswa SMA Labschool terpaksa memarkirkan kendaraan mereka diluar UPI. Seperti di pelataran Alfamart, atau kedai-kedai yang memiliki cukup lahan parkir. Selain itu, pelayanan parkir berbayar pun hanya dilayani oleh satu loket yang mengakibatkan antrian panjang. Menurutnya hal ini sangat tidak efektif. Lebih lanjut ia menuturkan, UPI telah melakukan privatisasi lahan publik. Dengan diberlakukannya parkir ini justru merupakan bentuk pembebanan kepada mahasiswa dan masyarakat.

Kerugian yang dihasilkan karena tidak efektifnya penggunaan mesin parkir ini tidak hanya dirasakan oleh siswa Labschool dan mahasiswa UPI saja. Ilham menuturkan, pihak yang dirugikan oleh keberadaan sistem parkir berbayar ini antara lain pegawai Kopma, OB, staf pengajar Labschool bahkan orangtua murid. Ia juga menceritakan bahwa demo parkir berbayar telah dilakukan oleh orangtua murid Labschool kepada K3 sebelum mimbar bebas terlaksana. Tak hanya orangtua murid SMA Labschool, aksi yang sama telah dilakukan orangtua murid SMP Labschool dan orangtua murid SD Isola. Ia menambahkan, pihak sekolah sangat mendukung terkait keresahan perihal parkir berbayar.

Saat iring-iringan masa mimbar bebas akhirnya mencapai kantor rektorat. Seluruh massa yang tergolong siswa SMA Labschool, berjalan mendatangi rektorat sembari menyanyikan lagu Buruh Tani. Aksi Mimbar bebas tersebut diakhiri dengan orasi berisi tuntutan kepada rektorat dan pembacaan puisi oleh salah satu partisipan forum aksi mahasiswa UPI serta evaluasi. Rencananya, forum aksi mahasiswa UPI masih akan tetap melibatkan siswa SMA labschool untuk ikut aksi Rabu mendatang.

Aksi Lanjutan

Tak hanya Ilham, ketua UKM UKSK, Thariq sekaligus koor lapangan mimbar bebas, menuturkan tujuan diadakannya aksi tersebut. Menurutnya, aksi mimbar bebas tersebut merupakan bentuk kampanye untuk menghimpun massa. Setelah beberapa kali diadakan konsolidasi, massa yang terhimpun kurang banyak. Kampanye dalam artian lain mimbar bebas, menurutnya merupakan langkah awal menggalang aksi serta upaya gerakan propaganda untuk aksi Rabu mendatang. “Jadi, ini merupakan rencana tindak lanjut untuk mengumpulkan massa lebih banyak. Forum kemarin juga mempertimbangkan perlu adanya penggalangan massa lebih besar lagi.” ungkap Thariq.

Ia kemudian mengklarifikasi perihal alasan dibalik diadakannya mimbar bebas pada hari Senin. Menurut Thariq, hari Senin dipilih sebagai hari untuk mimbar bebas agar ada jeda menggalang masa lebih besar. Ditambah konsolidasi internal masing-masing pihak Ormawa. “Ini upaya awal dulu. Supaya hari Rabu lebih massive lagi.” jelasnya lebih lanjut. Ia menekankan adanya pressure secara sosiologis, bahwa perlunya mobilisasi massa yang luas agar dapat meyakinkan pihak pemangku kebijakan bahwasannya parkir tidak disetujui secara aspirasi dari mahasiswa dan civitas akademika.

Ia kemudian menuturkan, secara kajian forum aksi mahasiswa telah menyiapkan kajian yang memadai. Dengan memberikan satu kritik ataupun satu perbandingan yang kritis agar pencabutan kebijakan parkir berbayar terrealisasi, pasalnya, sistem parkir berbayar sendiri telah memberatkan banyak pihak.

Mimbar bebas mestinya tak hanya melibatkan forum aksi mahasiswa UPI dan siswa Labschool. Keterlibatan BEM Rema pun akhirnya dipertanyakan. Menurut Ilham, forum aksi mahasiswa UPI sudah membuka dialog dengan Rema. Sebelum konsolidasi diadakan pada 31 Januari lalu, forum aksi mahasiswa UPI mengundang Presiden BEM sebelumnya, Fauzan Irfan sebagai salah satu perwakilan yang dilibatkan. Namun ia mengakui tidak pernah ada respon mengenai undangan tersebut. “Nah soal BEM, kan sebelum konsolidasi tanggal 31 itu, kita udah ngundang ketua BEM, Fauzan. Tapi Fauzan tidak pernah merespon undangan kami. Kan kami pingin tau gitu ya, Fauzan ini sebagai apa? Rapatnya bagaimana dan apa yang diketahui Fauzan. Kan sebelumnya dia sempet bikin video.” tutur Ilham. Hingga saat ini, Presiden Rema maupun staf BEM tak pernah merespon undangan dari pihak forum aksi mahasiswa UPI terkait kebijakan parkir berbayar. []

Redaktur: Ayu Rahmah W.

Comments

comments