Seorang Laki-laki yang Menyusuri Labirin Bibliografis

35

Oleh: Muhammad Zaki Annasyath

*) Penulis adalah Mahasiswa Perpustakaan dan Sains Informasi FIP UPI 2016

Bosscha, 1985, tak lebih dari seruas jalan pendek. Pepohonan lebat berjajar di setiap sisinya. Beberapa bangunan tampak berdiri gagah: Rumah, kios koran, toko kelontong, mushola.  Saya kerap menyambangi jalan itu, tepatnya mengunjungi sebuah rumah di ujung jalan. Rumah itu disulap menjadi sebuah perpustakaan oleh seorang perempuan tua berusia 50-an

Biasa berada di perpustakaan sekolah yang tak nyaman, tak ramah, dan tak bertenaga membuat saya terkesima dengan perpustakaan satu ini. Ruangannya dikitari rak-rak berbahan dasar kayu dan bermandikan cahaya matahari yang merasuk lewat jendela yang senantiasa terbuka. Buku-buku pun disusun secara sistematis sehingga pemustaka seperti saya mudah mencari buku yang diinginkan.

Perpustakaan itu juga menawarkan keheningan dan kenyamanan saat membaca. Terdapat bangku-bangku empuk, meja bundar berukuran besar dimana kita bisa membaca begitu rileks tanpa terganggu apapun.

Dan melampaui semua itu, saya sangat terpukau dengan koleksi di sana – entah ia memperoleh dari mana, saya tak begitu peduli- yang sangat berbeda dengan perpustakaan di sekolah saya. Kita sebut saja buku-buku karya penulis besar: Victor Hugo, Ernest Hemmingway, Charles Dickens, George Orwell, Kafka dan maestro-maestro lainnya yang menghiasi setiap rak di sana. Selain itu, karya-karya yang menawarkan pemikiran alternatif juga berjejalan dan menumpuk kaya.

Di sana, terutama saya bisa bermimpi menjelajah setiap sudut-sudut dunia, bercengkrama dengan berbagai makhluk, menjadi saksi hancurnya penjara Bastille, mencicipi buah di surga, melesapkan penderitaan manusia di neraka. Saya bisa menghabiskan waktu  di sana lebih dari 5 jam, setiap sore, menjamah berbagai macam buku yang melampaui ekspektasi saya, meniti kata di setiap halamannya, lalu menyelam begitu dalam.

Hal-hal seperti itulah yang tak saya dapatkan di perpustakaan sekolah. Perpustakaan di sekolah saya memiliki pemandangan menyedihkan. Sebuah ruangan bekas gudang dengan sirkulasi udara terhambat sebab jendela yang tak pernah dibuka.. Debu-debu tipis tersebar di beberapa bagian rak dan buku. Penyusunan buku yang semrawut membuat pemustaka-bahkan pustakawan-kerap bingung mencari buku dalam labirin bibliografis itu.

Dari tiga ribu buku yang berderet, hanya segelintir yang termasuk karya sastra. Selebihnya merupakan setumpuk buku pelajaran, buku tentang sopan santun serta sepaket buku motivasi dan seperangkat buku pancasila. Bahan pustaka seperti novel, cerpen, atau buku-buku yang mengandung hiburan  tak memiliki ruang untuk berkembang. Fenomena semacam itu mungkin merupakan hasil rakitan kekuasaan. Cengkraman suatu otoritas, tentu saja, menciptakan suatu sistem dimana sebuah perpustakaan tak memiliki kebebasan berkembang. Hal ini tak ubahnya menandakan ketakutan rezim yang pada akhirnya coba mengontrol dan menindas pikiran dan perilaku para siswa.

Iseng saya menanyakan kepada pustakawan di sana kriteria buku-buku yang mesti ia beli, jawabnya: “Buku-buku di sini sudah dipaket dari sebuah perusahaan,”. Ia menjelaskan bahwa sekolah saya telah menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan dalam hal pengadaan buku. Memakai mekanisme itu, maka akan susah membayangkan ada seorang siswa yang girang bukan kepalang ketika berada di sebuah perpustakaan sekolah.

Pernah pada suatu ketika, saya mendapat tugas dari guru bahasa indonesia untuk menyalin sebuah cerpen di perpustakaan. Betapa komat-kamitnya pustakawan disana, mencari cerpen yang saya minta dan tak ketemu. Alhasil, tugasnya pun dialihkan menjadi pekerjaan rumah sebab tak ada satu pun cerpen di perpustakaan. Sangat menyedihkan!.

Sungguh adalah suatu kekonyolan ketika setiap guru menggembor-gemborkan program tingkatkan minat baca, tapi tak memperhatikan pengembangan perpustakaannya. Mungkin bagi mereka, perpustakaan hanyalah sebuah bangunan muram yang diadakan demi menaikkan angka akreditasi pada lembar statistika di meja para penguasa. Pemikiran seperti itulah yang sedikit demi sedikit membunuh imajinasi siswa-siswa di sekolah.

Kondisi perpustakaan sekolah saya yang penuh kemuraman itu -dan kemungkian besar terjadi di hampir seluruh perpustakaan sejenjang-, tentu saja, tak bisa menarik minat siswa atau lebih jauh lagi mengikat kesetiaan para siswa untuk berkunjung. Dan kalau dibiarkan, bisa jadi di masa depan, perpustakaan sekolah bakal dihentikan oleh waktu.

Seorang penulis besar mengisahkan tentang sebuah perpustakaan dimana ia dapat mengkhayal dan bermimpi bersama penyair-penyair besar, para penganyam mantra yang hebat, serta begawan-begawan fiksi. Pertanyaannya, kapan perpustakaan sekolah dapat menghadirkan sensasi yang dirasakan penulis itu kepada siswa-siswanya?  

Pertanyaan itu menggema bahkan setelah 20 tahun saya meninggalkan kenangan manis di perpustakaan perempuan tua itu. Sebuah Pekerjaan Rumah menggelepar d masa depan ketika kita ingin membangun sebuah perpustakaan sekolah yang dapat memenuhi hasrat siswa yang tak terbatas dan menebas sekat-sekat imajinasi.

Oh, atau lebih baik kita tulis epitaf untuk seluruh perpustakaan sekolah di Indonesia?

Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis yang bersangkutan.

Comments

comments