Surat Terbuka untuk Mahasiswa Baru yang Sedang Diospek

158

Oleh : Tofan Aditya

Hallo kalian, sudah makan?
Kalau belum, makan dong.
Menjalani ospek juga perlu tenaga, bukan?

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat datang di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), selamat datang di sarang penyamun. Tetap sehat, tetap semangat. Sebab, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di UPI tidak akan semenarik kehidupan mahasiswa di FTV. Percayalah, percayalah.

Kalau membaca surat ini, artinya kalian sedang menjalani Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (Moka-KU). Atau mudahnya, kita sebut saja kegiatan tersebut ospek. Bagaimana ospeknya, bikin bosan, bukan? Ya, begitulah. Dari dulu tidak berubah kok, bikin jenuh. Ya, mungkin memang kegiatan ini dirancang untuk sekadar formalitas saja, biar nggak kalah dari kampus-kampus lain. 

Berbicara terkait ospek, saya jadi ingat kejadian di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang ramai beberapa waktu ke belakang. Di linimasa Twitter, saya membaca bahwa banyak Mahasiswa Baru (Maba) yang gugur gara-gara “persiapan” ospek yang terlampau kejam. Aneh juga sih kalau membaca kronologinya. Masa iya setelah dijemur berjam-jam, Maba-nya nggak diperbolehkan untuk minum. Di Banten lagi susah air atau gimana sih? Lagian kalo dijemur gitu ya pasti dehidrasi lah, borokokok

Ngapain juga sih bikin mosaik gituan? Biar Maba-nya cinta ke kampus? Ya, nggak perlu kejam kayak gitu juga keuleus. Cinta kok dipaksakan, sudah kayak bela negara saja. Lagian, apapun yang dipaksakan kan tidak baik, apalagi persoalan perasaan. Sebagai netizen, saya merekomendasikan panitia ospek Untirta untuk mendengarkan lagu Jatuh Bangun karya Meggy Z, “kejamnya sikapmu membakar hatiku sehingga cintaku berubah haluan”. Nah loh, gagal dong tujuan kegiatannya?

Oke, saya kembali ke pembahasan. Kalau kalian tanya saya, “apakah ospek di UPI juga akan seberat itu?”, saya akan jawab tidak tahu. Toh, saya bukan dukun. Coba kalian tanyakan saja ke Pesulap Merah. Siapa tau dia bisa memecahkan misteri ini. Tapi, kalau kalian tanya saya, “apakah UPI mungkin melakukan hal serupa?”, saya akan menjawab ya, atau bahkan sangat ya. Dan, andaikata benar-benar terjadi, saya ingin menyampaikan dua hal. Pertama, panitia kok “cerdas” sih, sudah tahu salah kok malah diikuti. Kedua, kalian harus bisa meniru (baiknya memodifikasi) gerakan yang telah terjadi di Untirta. 

Saya ingin menggarisbawahi poin ke kedua. Saya pernah mengalami pengalaman menjadi Maba, dan kesalahan saya adalah menerima semua tugas yang diberikan tapi sambil ngedumel. Setelah beberapa tahun setelahnya, baru saya sesali karena tidak pernah menyuarakan apa yang saya resahkan. Saya kemudian sadar, perlawanan paling kecil yang paling mungkin untuk dilakukan adalah dengan bersuara.

Ketika kalian tidak sanggup untuk melakukan konfrontasi langsung, bersuaralah. Syukur-syukur ada yang menolong. Kalaupun tidak, setidaknya kalian telah mencegah orang lain untuk jatuh di lubang yang sama.

Tahun lalu, ada pula gebrakan semacam itu di kampus kita tercinta. Di Instagram, akun @mahasiswaupi2021 dengan narasi #MahasiswaUPI2021Menggugat membuat gempar satu Indonesia. Meski hanya diikuti oleh 107 orang. Tapi, coba tengok satu-satunya postingan yang ada. Postingan tersebut telah memanggil 17.993 orang untuk menyukai dan 20.747 orang untuk berkomentar. Ya, walaupun miris juga sih sebab 2/3 isi komentarnya nyinyiran dari mahasiswa dan alumni yang sok ngartis dan sok ngaktivis. Untuk semua yang tetap berupaya melawan, saya angkat topi setinggi-tingginya.

Bagi saya, #MahasiswaUPI2021Menggugat adalah bentuk perjuangan yang paling mungkin untuk dilakukan oleh Maba. Terlepas siapa aktor di belakangnya, saya yakin mereka telah mempelajari bagaimana gerakan #BlackLiveMatters dan #MeToo sukses mengguncangkan dunia. Meskipun tetap saja, bagi saya, perjuangan di dunia maya perlu dibarengi dengan perjuangan di dunia nyata. Biar nggak terjebak slacktivism, katanya. Namun tetap saja, apa yang telah dilakukan patut diapresiasi.

Pasti kok, orang-orang di luar sana ada yang akan meledek “mental tempe” kepada kalian. Jangan terlalu diambil hati. Kita biarkan saja orang-orang kuno itu ngedumel. Lagipula, persoalan mental ya tidak bisa disamakan. Selain itu, konteks zaman hari ini ya jelas berbeda dengan konteks zaman sebelumnya.

Ingin saya membisikan di telinga mereka bahwa konteks zaman hari ini, sebetulnya, lebih sulit dari konteks zaman dulu. Ini bukan kata saya loh, ini kata Jason Dorsey, peneliti dari Center for Generational Kinetics. Beliau berkata, “kenyataanya, Gen Z semakin dewasa menghadapi berbagai tantangan yang belum pernah dihadapi generasi lain pada tahap kehidupan yang sama. Pandemi Covid-19 dan tekanan media sosial contohnya“. Ya bebas sih, memilih percaya atau tidak. Cuma kalau tidak percaya aneh juga. Kok dengan label kampus yang Ilmiah, masih ada saja yang tidak mempercayai statement dari seorang pakar?

Lagipula, apa yang salah dari “mental tempe”? Mari kita kupas tuntas. Dalam pusaran sejarah, istilah “mental tempe” dicetuskan oleh Soekarno untuk menganalogikan mental yang lemah dan tak punya harga diri. Maaf, meskipun Bapak adalah proklamator bangsa ini, saya tidak sepakat. Ada tiga alasan yang membuat saya tidak bersepakat. Pertama, saya tidak suka dengan pribadi Bapak. Kedua, banyak orang yang menyukai tempe (termasuk Bapak sendiri). Ketiga, tempe adalah mahakarya bangsa ini.

Alasan pertama tidak akan saya jelaskan. Tidak penting. Alasan kedua, di luar sana, selain Soekarno, banyak pula tokoh-tokoh yang mengidolai tempe. Misalnya saja, Alicia Silverstone, Barack Obama, dan Raffatar. Selain orang-orang elit tersebut, tempe juga dapat menjadi pilihan bagi mahasiswa kosan kere sebagai santapan sehari-hari. Oh iya sedikit tambahan, tempe juga sering menjadi pilihan bagi para vegetarian di seluruh dunia. Luar biasa! Dengan daya magisnya, tempe dapat meluluhkan seluruh lapisan masyarakat. 

Alasan ketiga, tempe adalah sebuah mahakarya Indonesia yang telah mendunia. Setidaknya, sejak tahun 2009. Tempe telah diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia. Dari segi gizi, makanan dengan bahan baku kedelai ini memiliki protein tinggi, sedikit lemak, kalsium, fosfor, thiamin, vitamin B12, dan retinol. Meski bentuknya sangat amat sederhana, tempe dapat diolah menjadi berbagai macam varian, mulai dari kaki lima sampai bintang lima. Mervelous!

Ya mestinya, kata tempe dalam istilah “mental tempe” dilihat dari sudut pandang substansi sih, bukan cuman bentuk.

Nampaknya surat ini sudah terlampau panjang. Intinya, saya hanya ingin memberikan semangat kepada kalian yang sedang menempuh ospek. Dan, kalau boleh berharap, saya ingin kalian menjadi pribadi yang berani. Kalau kata Pram, “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lalu apa harga hidup kita ini?”. Tapi perlu juga perlu dicatat, berani saja tidak cukup, kalian juga perlu berpikir. Sebab, apa gunanya berani tapi tidak berpikir? Paling banter ya cuman jadi mahasiswa yang barbar.

Oke, saya cukupkan saja surat ini. Maaf kalau ada perkataan yang menyinggung. Sekian dari saya, terima kasih. 

Oh iya, hampir lupa, Hidup Mahasiswa!

Tentang Penulis

Tofan Aditya. Penggemar Meggy Z. Sempat ingin menjadi Raffatar. Tapi sekarang ingin menjadi jurnalis. Ketika tulisan ini disebarluaskan, mestinya, sedang melaksanakan ujian sidang skripsi. Kalau berkenan, ikuti saja @tofanadityaa.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisan bersangkutan.

Comments

comments