Dilema Rekonstruksi Kampus UPI Padasuka: Terabaikannya Fasilitas Di Tengah Transisi Perubahan Imbas Rencana Besar UPI

127

Oleh:  Anisa D., Nabila P.A., Rahmah A., Zhafira K.M.H.

Bumi Siliwangi, isolapos.comUniversitas Pendidikan Indonesia (UPI) memiliki rencana ambisius untuk merombak besar-besaran gedung Kampus Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) yang terletak di Padasuka, Cicaheum, menjadi Rumah Sakit Pendidikan. Langkah strategis dari pihak rektorat ini memicu keresahan dari kalangan dosen, mahasiswa, hingga karyawan di sana karena infrastruktur perkuliahan saat ini sengaja dibiarkan rusak tanpa perbaikan menjelang pembongkaran gedung.

Kampus UPI Padasuka yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 1.6 hektar selama ini menjadi wadah perkuliahan bagi mahasiswa program studi S1 Kepelatihan Fisik Olahraga (KFO) dan S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO). Berdasarkan unggahan akun Facebook FPOK UPI Bandung, pada rencana awal, lahan ini sempat dijanjikan akan dikembangkan menjadi sebuah Sport Center yang dapat diberdayakan untuk masyarakat Jawa Barat. Namun saat ini, realitas di lapangan justru berbanding terbalik dengan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. 

Kondisi mengkhawatirkan ruangan serbaguna di lantai dua FPOK Kampus UPI Padasuka dengan beberapa jendela tanpa kaca, lumut yang menyatu di dinding dan black mold berkeliaran di langit-langit (04/16). (Isola Pos/Zar)

Biro Aset dan Lingkungan melalui Kepala Bagian Inventarisasi dan Pelaporan, Aji Muhammad Fauzi, menerangkan bahwa pembangunan Rumah Sakit pendidikan atas dasar bagian dari rencana induk pengembangan, bertujuan mendukung pembelajaran mahasiswa sekaligus pelayanan umum, serta sebagai sumber pendapatan baru bagi UPI melalui Income Generating Unit (IGU). Rekonstruksi fasilitas dari Padasuka ke Kampus UPI Bumi Siliwangi diharapkan akan meningkatkan efektivitas dan modernisasi, dengan fasilitas yang lebih lengkap dan multifungsi.

“Terkait (Kampus UPI-red) Padasuka, berhubungan dengan lembaga bisnis lain, UPI sudah memiliki fakultas Kedokteran dan Keperawatan di FPOK, kita kolaborasi di sana untuk mengembangkan keduanya. Kayak UNPAD kan punya Rumah Sakit UNPAD, mereka kerjasama. Sekarang UPI tidak memiliki rumah sakit sendiri, otomatis kerjasama dengan rumah sakit-rumah sakit lain. Sehubungan dengan hal tersebut UPI dituntut untuk membuat rumah sakit, kelasnya engga sekelas RSHS. Di samping itu, selain untuk pembelajaran dibuka juga pelayanan umum. UPI kan sudah PTN-BH dituntut untuk adanya IGU,” Jelas Aji.

Lebih lanjut, Pihak Rektorat UPI melalui Direktur Direktorat Perencanaan dan Organisasi, Yatun Romdonah Awaliyah menegaskan bahwa alih fungsi lahan ini didasarkan pada kebutuhan pasca berdirinya Fakultas Kedokteran (FK) UPI. Universitas  diwajibkan memiliki Rumah Sakit Pendidikan sendiri yang memenuhi regulasi, yakni minimal Rumah Sakit Tipe B dengan kapasitas 200 tempat tidur dengan membagikan persentasenya masing-masing untuk pasien BPJS, Non-BPJS, dan VIP.

“Di Peraturan Pemerintah (PP) dan Kemenkes, ketika sebuah universitas ingin membuat rumah sakit pendidikan, maka rumah sakitnya itu minimal rumah sakit tipe B,” Ujarnya.

Yatun pun menjelaskan bahwa selama ini mahasiswa Fakultas Kedokteran serta Program Studi Keperawatan harus menggunakan rumah sakit mitra yakni RS Bhayangkara Sartika Asih, untuk melakukan praktik klinis dimana hal tersebut memakan anggaran sewa hingga ratusan juta rupiah per tahun. “Kita juga menghitung–oh, rumah sakit mitra itu bisa mencapai ratusan juta untuk membayar sekali praktik, bukan hanya Fakultas Kedokteran, (tapi-red) termasuk Keperawatan. Jadi ketika ada teman-teman dari (program studi-red) Keperawatan ingin praktik di rumah sakit, kita itu bayar,”Jelasnya.

Selain sebagai pusat praktik mandiri, pembangunan rumah sakit ini diproyeksikan menjadi unit penghasil pendapatan baru universitas yang berkaca pada kesuksesan universitas lain seperti Universitas Padjadjaran (UNPAD), sekaligus merespons minimnya fasilitas pelayanan kesehatan umum di wilayah Bandung Timur. “Kita juga sebenarnya membangun rumah sakit bukan egoisme UPI karena memiliki FK, Keperawatan, dan Gizi. Tapi di sisi lain kita juga membantu pemerintah mencarikan solusi karena kebutuhan rumah sakitnya tinggi, sampai sekarang belum ada misalnya rumah sakit yang khusus Sport Medicine seperti itu, jadi urgensinya luar biasa,” Ungkap Yatun.

Sebagai solusi penempatan, pihak rektorat akan merealokasi seluruh sivitas akademika FPOK Kampus UPI Padasuka ke kampus utama Bumi Siliwangi. UPI berencana membangun Gedung FPOK B baru setinggi 6 lantai yang diklaim multifungsi dan terintegrasi guna menampung Prodi Olahraga, Gizi, serta Keperawatan. 

“Kalau kita lihat untuk Program Studi Gizi dan Keperawatan juga saat ini belum memenuhi terkait lab dan sebagainya, yasudah kita akomodir saja semuanya. Teman-teman yang dari Padasuka kita realokasi ke sini, kita bangun. Sekalian juga mengakomodir teman-teman Gizi dan Keperawatan. Jadi lab-nya kita bangunkan di sini (Kampus UPI Bumi Siliwangi-Red), kemudian juga untuk fasilitas olahraga dari Padasukanya. Kalau misalnya teman-teman melihat lapangan berdebu, dengan kata lain kan kadang kala sekarang itu terbengkalai tidak ada pemanfaatan, paling parkir kan di sana (itu dijadikan fasilitas olahraga-red) seperti itu. Akhirnya untuk gedung perkuliahan dan prakteknya kita akan bangun FPOK B. Kemarin rencananya Pak Rektor itu sekitar 6 lantai, untuk FPOK B itu mengakomodir semuanya nanti,” Jelas Yatun.

Konstruksi gedung baru FPOK B di Bumi Siliwangi ini ditargetkan mulai berjalan pada Juni 2026, dengan proyeksi penyelesaian di bulan Juni 2027 dan siap digunakan penuh pada September 2027. Bersamaan dengan itu, area Lapangan Berdebu di Bumi Siliwangi akan diolah menjadi lapangan olahraga multifungsi menyesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa FPOK Kampus UPI Padasuka.

Kesenjangan Fasilitas dan Tuntutan UKT Mahasiswa

Tim Isola Pos melakukan penelusuran langsung ke FPOK Kampus UPI Padasuka di pertengahan Februari serta awal dan pertengahan April 2026. Dari hasil pantauan, visual bangunan menunjukkan kondisi memprihatinkan dengan sejumlah ruang kelas tampak mengalami kerusakan fisik seperti plafon berlubang, dinding lembab dipenuhi lumut serta jamur hitam (black mold), hingga keramik lantai yang pecah di beberapa titik.

Tampak salah satu ruang kelas di lantai tiga FPOK Kampus UPI Padasuka dengan lumut menyatu di dinding serta plafon berlubang (04/16). (Isola Pos/Zar)

Mahasiswa FPOK Kampus UPI Padasuka sendiri merasakan kekecewaan. Data aspirasi mahasiswa memaparkan keluhan masif mengenai ketidaksesuaian fasilitas dengan besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mereka bayarkan. Alwi Sihabudin, mahasiswa Prodi Kepelatihan Fisik Olahraga (KFO) angkatan 2023, menyampaikan keluhannya terkait fasilitas perkuliahan yang dinilai kurang memadai. “Ngerasa ga sebanding lah, kurang, apalagi yang PKO matkul atletik itu sampe bawa alat sendiri atau malah bikin,” Pungkasnya.

Fasilitas penunjang lainnya seperti area parkir pun dinilai kurang layak karena sempit, becek, dan tidak memiliki peneduh sehingga kendaraan yang terparkir di area tersebut sering kehujanan dan kepanasan. “Parkiran kadang becek, parkirannya ga ada tudungnya. Parkirannya sempit, dipakai juga sama pasien fisioterapi karena disana deket sama tempat terapi,” Tegas Alwi.

Selain itu, proyektor rusak dalam kelas juga menjadi penghambat, bahkan sering kali memotong waktu belajar efektif. “Yang sering bermasalah tuh ada, contoh proyektor yang di bawah sekarang, kabel HDMI proyektornya rusak jadi susah nyambungnya, itu sudah dari pas waktu semester empat atau lima, ya jadi dampaknya waktu belajarnya jadi molor karena waktunya dipake buat memperbaiki si kabel ini.”

Masalah sanitasi juga tak luput menjadi sorotan, mulai dari area toilet yang kurang bersih, bilik pintu lepas, kekurangan air, serta asap bakaran sampah yang mengganggu. “Kelasnya bau yang di ujung dekat wc karena bau wc-nya mengganggu, sama kadang bau dari pembakaran sampah oleh warga.”  Tambahnya.

Validasi atas keluhan ini ditemukan saat Tim Isolapos melakukan penelusuran ke area sanitasi. Kami menemukan banyak genangan air akibat saluran mampet dibiarkan begitu saja, aroma menyengat yang tercium hingga radius beberapa meter, serta wastafel kotor tidak layak pakai di lantai dua. Untuk penelusuran sanitasi pada lantai tiga, ditemukan bahwa mayoritas toilet tidak memiliki bilik pintu yang utuh serta keran yang tidak menyala dengan lantai kotor.

Tampak deretan bilik toilet mahasiswa di lantai tiga yang terbengkalai tanpa daun pintu yang utuh serta kondisi lantai penunjang sanitasi yang kotor (04/16). (Isola Pos/Zar)

Awa, salah satu mahasiswa KFO angkatan 2025, mengungkapkan bahwa sejak awal perkuliahan kondisi ruang kelas sudah kurang layak. Lantai keramik pecah, dinding retak, bahkan plafon bocor. “Sebenarnya untuk saya pribadi (keadaan kelas-Red) itu sangat mengganggu. Karena dari mulai keramik ya, keramiknya pecah-pecah dan sebagainya. Terus fasilitasnya yang emang kurang buat mendukung untuk belajar disini,” Ungkapnya.

Bentuk ruang kelas aktif dipakai dengan lantai yang diisi banyak keramik hancur (04/16). (Isola Pos/Zar)

Dirinya menerangkan bahwa mayoritas mahasiswa lebih menyetujui adanya renovasi bangunan FPOK Kampus UPI Padasuka untuk menunjang kenyamanan perkuliahan dibandingkan harus berpindah ke Kampus Bumi Siliwangi karena fasilitas olahraga sebagai bahan praktikum di Padasuka dinilai lebih bebas digunakan tanpa adanya biaya tambahan, izin operasional, dan waktu untuk menunggu giliran. 

“Kalau prasarana buat latihan fisik disini (Padasuka-Red) bagi saya cukup. Karena kalau misalkan kita menggunakan fasilitas di atas (Bumi Siliwangi-Red) itu kan cukup memakan waktu, kita bayar, dan harus menunggu pemakaian peminjaman dulu untuk tempatnya,” Tegas Awa.

Fasilitas ruang latihan olahraga anggar pada lantai tiga FPOK Kampus UPI Padasuka dengan langit-langit yang mulai lapuk (04/16). (Isola Pos/Zar)

Pihak mahasiswa KFO sendiri telah melakukan seruan untuk menyuarakan pendapat atas hak dan keadilannya melalui aspirasi yang disediakan melalui Humas Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) KFO guna menuntut keadilan fasilitas belajar dan kekurangan lainnya yang seharusnya mereka dapatkan.

Di tengah lambatnya realisasi perbaikan fasilitas, Alwi menjelaskan bahwa para dosen memberikan dukungan moral kepada mahasiswa agar tetap menyampaikan aspirasi mereka kepada pihak kampus. “Respon dosen ya menyuruh lapor dan meminta hak mahasiswa, dosen-dosen tuh sebenarnya membela mahasiswanya karena dosen kebanyakan dari alumni,” Ungkapnya.

Dibiarkan Rusak Demi Menghindari Kerugian Ganda

Kondisi selasar lorong lantai tiga dengan bagian plafon yang runtuh menyisakan lubang besar menganga (04/16). (Isola Pos/Zar)

Perencanaan Rumah Sakit Pendidikan ini membuat bangunan FPOK Kampus UPI Padasuka terlantar, meninggalkan jejak kerusakan paling masif di lantai tiga. Berdasarkan penelusuran mendalam Tim IsolaPos, atmosfer tidak nyaman langsung menyergap begitu memasuki lantai tertinggi gedung sebagai bagian yang seharusnya menjadi penunjang kegiatan lingkungan akademik. Absennya aktivitas renovasi bertahun-tahun mereduksi fungsi fasilitas akademik menjadi banyak hal yang mengkhawatirkan. Langit-langit selasar yang rapuh tampak menjuntai dan jebol menyambut kami dalam melakukan eksplorasi lantai ini. Totalnya terdapat lima ruangan yang terdiri dari ruang latihan anggar, satu ruang kelas kosong terbengkalai, satu ruang kelas aktif, ruangan toilet, serta satu ruang kosong terbengkalai yang kini beralih fungsi menjadi gudang penampungan material lapuk, dengan kondisi dinding berubin lembab yang dihias figura berdebu berisi sejarah lawas prestasi FPOK dan barisan lubang pipa menganga tanpa keran terpasang maupun keran berkarat yang telah mati. Ruang ini kotor dan rusak tanpa perawatan.

Sudut ruang tidak terpakai di lantai tiga dengan dinding berubin memperlihatkan barisan lubang instalasi pipa yang dibiarkan rusak di tengah penundaan anggaran perawatan (04/16). (Isola Pos/Zar)

Selain ruangan kosong terbengkalai tadi, kerusakan ekstrim lainnya di lantai ini terlihat pada salah satu ruang kelas yang kini dibiarkan kosong dan tidak lagi digunakan untuk kegiatan perkuliahan. Di dalam ruangan tersebut, area plafon tengah telah runtuh sepenuhnya hingga menyisakan rongga besar menganga dengan material penutup yang menjuntai rapuh, sementara permukaan lantai keramiknya tampak menghitam penuh kotoran tebal serta dinding sekitar yang mulai ditumbuhi lumut. 

Potret ruang kelas kosong dengan keadaan lantai kotor dipenuhi debu tebal, dinding berlumut, dan plafon jebol pada lantai tiga FPOK Kampus UPI Padasuka (04/16). (Isola Pos/Zar)

Pimpinan universitas secara sadar dan sengaja tidak memberikan anggaran renovasi untuk FPOK Kampus UPI Padasuka. Berdasarkan penjelasan, perbaikan menyeluruh sengaja ditiadakan karena bangunan tersebut akan segera dirobohkan. Melakukan renovasi besar pada gedung yang akan dihancurkan dinilai sebagai ketidakefektifan waktu serta pemborosan anggaran. 

“Mahasiswa FPOK yang di sana (Padasuka-red) itu mungkin protes. Kenapa gedungnya kayak gini? Memang saya sudah kesana. Bolong-bolong gitu ya. Jadi di lantai berapa itu memang tidak direnov oleh dekannya sendiri. Tidak renov dan memang karena tadi mau di-demolish, sehingga sayang kalau itu direnov. Kemudian (apabila-red) di-demolish, artinya kerjanya dua kali,” Jelas Rudi selaku Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Keuangan.

Dampaknya, operasional perawatan sekecil apapun di Padasuka selama ini hanya bertumpu pada dana mandiri fakultas, seperti hasil sewa lapangan dari pihak luar. Salah satunya pemasukannya adalah lewat Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) wilayah Jawa Barat yang seringkali mengadakan kegiatan di sana. 

“Kalau ada kegiatan kita nih, ada pelatihan, ada tes fisik, dan lain sebagainya. KONI, baik KONI Provinsi maupun KONI Kota yang ada di Jawa Barat minta bantuan kita. Kita kan dapet sisa (dana-red) itu dikumpulkan, tidak minta ke UPI. Ya, kita mencari saja sih,” ungkap Dikdik selaku dosen Program Studi Kepelatihan Fisik Olahraga. 

Bahkan, dana perbaikan masjid kampus ini pun dilaporkan murni dari pihak fakultas tanpa sepeser pun bantuan dari pusat. Situasi ini memicu perasaan janggal mahasiswa dan dosen yang merasa hak belajarnya dikorbankan selama masa transisi pembangunan yang tidak pasti.

“Kita perbaiki sendiri, ga ada (dana dari rektorat-red), hanya dari fakultas dan uangnya uang kita juga,” Tutur Dikdik. Ia pun menegaskan mengenai pengelolaan dan pemakaian fasilitas di Kampus UPI Padasuka akan senantiasa diupayakan, “Kita akan memperbaiki dengan cara sendiri, kesanggupan kita. Kalaupun tidak, ya kita memelihara yang ada. Jangan sampai rusak, itu aja.” 

Kondisi bagian dalam masjid kampus Padasuka dengan rangka atap baja ringan tanpa plafon pasca renovasi mandiri oleh pihak fakultas (04/16). (Isola Pos/Sanjaya)

Keresahan Sivitas Akademika Di tengah Ketidakpastian Relokasi Bangunan 

Dosen senior prodi Kepelatihan Fisik Olahraga, Dikdik Zafar Sidik menyayangkan perubahan orientasi kampus yang dinilai bergeser ke arah bisnis komersial. Menurut sejarahnya, FPOK Kampus UPI Padasuka dahulu bernama Sekolah Tinggi Olahraga, yang merupakan kiblat olahraga nasional dalam melahirkan atlet-atlet tersohor, bahkan pernah menjadi kawah candradimuka tempat para eks pemain Persib Bandung berlatih di bawah asuhan pelatih legendaris Indra Tohir. 

“Kenapa IKIP Bandung itu terbaik se-Indonesia? Karena olahraganya yang ada di nasional, pembina-pembina olahraga nasional, pemangku kebijakan olahraga nasional, berasal dari IKIP, berasal dari Bandung. Sehingga nama IKIP Bandung itu dikenal, khususnya untuk olahraga kepelatihan, olahraga prestasi. Kalau berbicara olahraga prestasi, kiblatnya IKIP Bandung,” Jelas Dikdik. 

Dikdik juga menyoroti bahwa realokasi sivitas akademika ke Bumi Siliwangi berisiko mematikan prestasi olahraga UPI. “Di Padasuka, mahasiswa memiliki kebebasan waktu penuh untuk berlatih hingga malam hari secara gratis. Sementara di Bumsil, fasilitas olahraga sangat padat dan jatah latihan dibatasi ketat. Sebagai contoh, tim futsal UPI peraih juara berturut-turut kini hanya diberi jatah latihan seminggu sekali secara bergiliran,” Ungkapnya.

Selain itu, kejelasan tempat latihan bagi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sekretariatnya berlokasi di Padasuka masih belum mendapat kejelasan untuk melakukan latihan bila tidak tersedianya lahan tambahan di Kampus Bumi Siliwangi.

“Apakah fasilitas yang ada di sini (Padasuka-Red) akan juga di sana (Bumi Siliwangi-Red) ditambah? Karena kalau masih sama seperti yang sekarang, hanya ada bangunannya saja, (maka-Red) UKM di sini, yang latihannya setiap hari, (akan-Red) dimana di sana? Kalau tidak ada fasilitas sejumlah yang ada di sini, pindahkan ke sana jumlahnya yang tidak boleh berbayar. Karena disini tidak berbayar. Baru kita bisa terima, walaupun meninggalkan sejarah,” Tutur Dikdik.

Ruang latihan angkat beban dengan peralatan lengkap yang termakan usia untuk menunjang kebutuhan mahasiswa FPOK Kampus UPI Padasuka (04/16). (Isola Pos/Zar)

Sisa-sisa kejayaan sejarah yang dimaksud Dikdik memang masih berdiri nyata di sana. Di balik fisik kampusnya yang menua dan seolah terlantar, Padasuka sejatinya adalah sebuah suaka olahraga yang hidup. Dalam penelusuran, Tim Isolapos menemukan banyak kelengkapan fasilitas terkait olahraga yang tersedia di FPOK Kampus UPI Padasuka. Untuk area indoor, terdapat lapangan futsal, ruang gym, ruang latihan judo maupun karate, serta ruang latihan anggar. Sedangkan untuk area outdoor, terdapat tempat latihan panahan, hamparan lapang sepak bola dengan lintasan lari di sekelilingnya, kemudian area lapang basket dan voli, serta dinding panjat tebing.

Respon atas penghilangan fasilitas olahraga yang sudah memadai di Padasuka ini, pihak Direktorat Perencanaan dan Organisasi tetap menegaskan bahwa nantinya fasilitas olahraga di Kampus Bumi Siliwangi akan disesuaikan selayaknya di Padasuka sebagai penunjang praktikum.

“Untuk praktik lapangannya kan sebenarnya untuk lapangan sepak bola, terus atletik kan sudah ada nih di gymnasium, tapi otomatis kan untuk yang namanya teman-teman di olahraga itu banyak praktiknya, jadi insya allah mudah-mudahan tahun ini juga untuk lapangan berdebu itu akan kita olah menjadi lapangan multifungsi untuk praktik, olahraga atletiknya, menyesuaikan dengan kebutuhan teman-teman yang di Padasuka,” Jelas Yatun.

Dikdik kembali menegaskan mengenai jaminan kenyamanan sivitas akademika pasca direalokasikannya FPOK Kampus UPI Padasuka ke Bumi Siliwangi, “Silahkan dipindahkan, tapi pastikan ketika kita pindah nyaman seperti di sini,” Tegasnya.

Kompleks fasilitas olahraga lapangan sepak bola dan lintasan lari di FPOK Kampus UPI Padasuka (04/08). (Isola Pos/Nabila P.A.)

Penyesuaian anggaran UKT dengan kelayakan fasilitas di Kampus UPI Padasuka menjadi perhatian penting dari mahasiswa, mereka mengharapkan adanya renovasi lanjutan dan peningkatan kualitas fasilitas guna mendukung kelancaran kegiatan perkuliahan, kemudahan akses fasilitas olahraga, dan pembebasan biaya untuk penggunaan gym serta kolam renang yang tersedia. 

Editor: Sanjaya S.P.

You might also like