Oleh: Gian Fajar Apriadi
Bandung, Isolapos.com–Para mahasiswa dari Program studi Ilmu Komunikasi Universitas Langlangbuana mengadakan sharing session bertajuk “Mind Matters: Childhood Trauma, PTSD, dan Dampaknya pada Kesehatan Mental”. Acara ini diselenggarakan pada Jum’at (22/05) di cafe Temu Cerita, kota Bandung.
Zaki Prasitya selaku ketua pelaksana dari acara ini menyebutkan bahwa childhood trauma yang dialami saat kecil bisa sangat berdampak hingga dewasa, hal ini dinyatakan dapat dilihat dari perilaku seseorang. “Maka dari itu untuk mengedukasi masyarakat terkait kesehatan mental, acara ini juga diadakan sebagai pemenuhan tugas mata kuliah komunikasi kesehatan” ujarnya.
Annisa Rahma Aulia selaku pemantik dari diskusi dalam acara ini menekankan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang rentan mengalami trauma. “Jika trauma terjadi sejak kecil, dampaknya bisa berlanjut hingga dewasa dan memengaruhi kualitas hidup seseorang dalam jangka panjang” jelasnya.
Nagiea Maharani, sebagai salah satu pembicara dalam acara ini, menjelaskan bahwa childhood trauma merupakan isu yang masih kurang mendapat perhatian di masyarakat meskipun memiliki dampak jangka panjang terhadap kehidupan seseorang. Menurutnya, pengalaman traumatis pada masa kanak-kanak dapat memengaruhi perkembangan emosional, sosial, hingga perilaku individu saat dewasa. “Kami ingin mengangkat isu ini karena trauma masa kecil sering kali dianggap sepele padahal dampaknya sangat besar bagi perkembangan individu di masa depan,” ujarnya.
Jika dilihat dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental mulai meningkat. Berbagai kasus yang muncul di media sosial maupun pemberitaan membuat masyarakat semakin memahami bahwa masalah kesehatan mental bukan lagi isu yang bisa diabaikan.
Namun dijelaskan pula bahwa seseorang yang pernah mengalami trauma pada masa kecil, sering kali masih menghadapi dampaknya hingga dewasa. Annisa menjelaskan bahwa penyintas trauma sering mengingat kembali pengalaman yang tidak menyenangkan sehingga memicu overthinking dan berbagai gangguan emosional “Mereka bisa mengalami overthinking sehingga peristiwa tersebut terus terbayang dan memicu depresi,” jelasnya.
Nagiea menambahkan bahwa tekanan sosial yang semakin kompleks seiring bertambahnya usia juga dapat menjadi pemicu munculnya kembali trauma yang pernah dialami seseorang. “Selain itu ada tekanan sosial yang semakin bertambah seiring usia, baik dari keluarga, pertemanan, maupun lingkungan pendidikan. Hal itu dapat memunculkan kembali trauma yang pernah dialami,” imbuhnya.
Permasalahan kesehatan mental tidak hanya menjadi perhatian di lingkungan masyarakat, tetapi juga di lingkungan kampus. Berdasarkan hasil diskusi, para narasumber menilai bahwa fasilitas kesehatan mental bagi mahasiswa masih perlu ditingkatkan.
Zaki mengungkapkan bahwa layanan kesehatan mental di lingkungan kampus belum sepenuhnya bisa menjawab kebutuhan mahasiswa yang memiliki latar belakang dan permasalahan yang beragam. Menurutnya, keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor yang menyebabkan layanan tersebut belum berjalan secara optimal.
Selain penyediaan layanan, dukungan dari lingkungan sekitar juga dinilai memiliki peran penting dalam membantu penyintas trauma. Para narasumber menekankan bahwa seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental sering kali membutuhkan tempat yang aman untuk bercerita dan mendapatkan dukungan emosional.
“Jangan memendam masalah sendirian. Cari orang yang dipercaya dan membuat nyaman untuk berbagi cerita,” ungkap Annisa. Menurutnya, memiliki safe place atau ruang aman untuk berbagi pengalaman dapat membantu seseorang mengurangi beban psikologis yang selama ini dipendam. Dukungan sederhana dari teman, keluarga, maupun lingkungan sekitar juga dapat memberikan dampak besar terhadap proses pemulihan seseorang.
Zaki turut menekankan pentingnya komunikasi dalam mendampingi penyintas trauma. Ia menjelaskan bahwa masyarakat tidak harus selalu memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi seseorang. Menjadi pendengar yang baik dan memberikan perhatian secara berkala sudah merupakan bentuk dukungan yang berarti. “Yang penting kita sudah mendengarkan dengan baik dan berusaha membantu,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap agar masyarakat semakin memahami pentingnya kesehatan mental serta lebih peduli terhadap orang-orang di sekitar yang sedang menghadapi masalah psikologis. Mereka juga berharap stigma terhadap isu kesehatan mental dapat berkurang sehingga lebih banyak individu yang berani mencari bantuan ketika membutuhkannya.
“Kesehatan mental sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa sangat serius. Terutama pada anak-anak, karena banyak permasalahan berawal dari masa kanak-kanak,” tutup Nagiea.
Editor: Sennita Tya Divany