Ketika Bahagia Harus Diunggah Dulu: Budak Validasi di Bawah Rezim Algoritma

6

Oleh: Firyal Puteri Fahima*

“Kebahagiaan sejati sering kali tumbuh dalam keheningan, namun layar digital memaksa kita untuk terus bersuara agar dianggap ada.”

Bayangkan sebuah meja kayu di sudut kedai kopi yang estetik. Di atasnya tersaji secangkir coffee latte dengan seni busa yang rapi, bersanding dengan sepiring pasta yang aromanya menggoda. Sebelum sendok atau garpu menyentuh makanan, ada satu ritual wajib yang kini hampir tidak pernah terlewatkan oleh manusia modern, yaitu merogoh kantong, membuka kamera ponsel, lalu mengambil gambar dari sudut terbaik. Hidangan yang mulai mendingin itu tidak boleh dinikmati sebelum berhasil melewati gerbang digital bernama unggahan cerita media sosial.

Fenomena ini memicu sebuah pertanyaan mendasar yang menggelitik esensi eksistensi kita saat ini. Apakah kita benar-benar sedang merayakan dan menikmati kebahagiaan, atau kita justru sedang mengemis validasi agar merasa bahagia? Realitas hari ini menunjukkan bahwa batas antara menjalani hidup yang nyata dan memamerkan hidup yang semu telah runtuh sepenuhnya. Banyak dari kita yang mendadak gagap untuk bersyukur secara privat tanpa melibatkan jempol orang asing.

Pergeseran Eksistensial di Ruang Digital

Jika kita membedah kegilaan ini dari kacamata filsafat eksistensialisme, kita akan menemukan betapa relevannya pemikiran Jean-Paul Sartre mengenai konsep tatapan orang lain atau The Look. Sartre berargumen bahwa kesadaran akan diri kita sering kali didikte secara kejam oleh bagaimana orang lain melihat dan menilai kita. Di era digital ini, adagium klasik Rene Descartes yang berbunyi aku berpikir maka aku ada, tampaknya sudah kedaluwarsa dan digantikan oleh jargon baru yang berbunyi aku mengunggah maka aku ada.

Kita dengan sukarela menyerahkan kedaulatan diri kita kepada publik digital. Angka pengikut, jumlah penonton cerita, dan kolom komentar kini bertindak sebagai hakim agung yang menentukan apakah hidup kita hari ini berharga atau merana. Ketika seseorang menolak untuk merasa bahagia sebelum tombol bagikan ditekan, ia sebenarnya sedang menurunkan derajat dirinya menjadi objek pameran yang tidak memiliki kuasa atas emosinya sendiri. Kebahagiaan tidak lagi menjadi pengalaman spiritual yang intim, melainkan telah bergeser menjadi sebuah komoditas murah yang harus dipamerkan demi mendapatkan stempel pengakuan dari luar.

Candu Dopamin dan Ilusi Pengakuan

Secara psikologis, ketergantungan akut pada layar ponsel ini memiliki penjelasan ilmiah yang sangat logis namun sekaligus mengerikan. Setiap kali kita melihat lingkaran merah menyala di pojok aplikasi yang menandakan adanya tanda suka atau komentar baru, otak kita langsung memproduksi zat kimia bernama dopamin. Zat inilah yang bertanggung jawab atas munculnya sensasi kesenangan instan dan kepuasan semu yang kita rasakan di ruang siber.

Sialnya, kesenangan yang dihasilkan oleh dopamin ini mirip seperti candu murahan yang durasinya sangat singkat. Kita akhirnya terjebak dalam lingkaran setan yang terus menuntut kita untuk memprogram dan membagikan momen personal berikutnya hanya demi mendapatkan suntikan dopamin yang baru. Ketika sebuah unggahan ternyata sepi dari interaksi publik, mental kita langsung jatuh. Muncul perasaan cemas, merasa tidak berharga, bahkan timbul penyesalan mendalam mengapa momen tersebut harus dibagikan. Kita tidak lagi mengendalikan teknologi, melainkan teknologilah yang sedang mempermainkan kesehatan mental kita melalui validasi digital.

Arena Pacuan Ego dan Perbandingan Sosial

Situasi ini diperparah oleh teori perbandingan sosial yang digagas oleh Leon Festinger. Manusia memiliki kecenderungan alami untuk mengevaluasi dirinya dengan cara membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial kemudian hadir sebagai arena pacuan ego yang sangat tidak sehat karena menampilkan realitas yang sudah dikurasi sedemikian rupa.

Saat layar ponsel kita setiap hari dibombardir oleh potongan momen terbaik dari hidup orang lain yang tampak tanpa cela, muncul tekanan psikologis yang memaksa kita untuk ikut bersandiwara. Kita merasa harus memproduksi konten kebahagiaan tandingan agar tidak terlihat kalah, tertinggal, atau menyedihkan di mata lingkaran pertemanan siber. Hasil akhir dari pacuan ego ini adalah sebuah kepalsuan yang masif. Apa yang kita unggah bukan lagi refleksi dari rasa syukur yang jujur atas kehidupan, melainkan sebuah benteng pertahanan ego yang rapuh untuk menutupi rasa minder di hadapan publik.

Merebut Kembali Kemerdekaan Merasa

Sudah saatnya kita berhenti menjadi pion yang digerakkan oleh algoritma kapitalistik media sosial. Tentu tidak ada larangan untuk mendokumentasikan momen indah dalam hidup, namun segalanya menjadi tidak sehat ketika tindakan mengunggah tersebut berubah menjadi sebuah syarat mutlak dan satu-satunya validasi agar kita bisa merasa bahagia.

Menikmati makanan selagi hangat tanpa sibuk mencari sudut pencahayaan yang pas, atau memandangi wajah orang yang kita sayangi tanpa perlu memikirkan untaian kata untuk takarir unggahan, adalah bentuk kemerdekaan sejati yang mulai punah di era modern ini. Kita harus berani merebut kembali hak untuk merasakan bahagia secara sunyi dan privat. Kebahagiaan sejati tidak pernah membutuhkan ketukan dua kali di layar ponsel orang asing untuk membuktikan bahwa ia benar-benar nyata, berharga, dan ada.

*Penulis merupakan mahasiswa Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis yang bersangkutan

You might also like