Kabayan di Zaman Romeo

388

Bumi Siliwangi, isolapos.com-

Kabayan dan Iteung saat berdialog dalam pemantasan “Kabayan di Negeri Romeo” di Auditorium A FPBS UPI, Rabu (13/5).

Bangun dari tidur, Kabayan (Rissa Risyana R.) langsung menghampiri meja di depannya. Di atas meja, ada sepasang alat yang bentuknya sedikit aneh. Dibolak-balik alat itu olehnya sambil berkata, “akhirnya mesin waktu buatan sayah teh jadi juga.” Sementara Kabayan sedang asyik dengan mesin waktunya, Iteung (Trecy Rizkiana A.), istri kabayan datang. Ia heran dengan tingkah laku suaminya itu. Melihat Iteung, Kabayan langsung pamer. “Lihat Iteung, suami kamu teh hebat atuh bisa bikin mesin waktu. Sekarang, panggil akang Profesor Kabayan,” ujar Kabayan dengan logat Sundanya yang kental. “Kerjamu ngurus-ngurus nu kitu patut katimbang ngurus istri!” kata Iteung kesal.

Kisah Kabayan dalam teater Pagelaran Sastra Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Auditorium A Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), itu berbeda dengan cerita Kabayan yang dikenal oleh masyarakat Sunda. Kali ini, Kabayan menjelajah waktu ke masa lalu dengan menggunakan mesin waktu. Bersama Iteung, Kabayan memasuki masa dimana kisah cinta Romeo (Rizki Aulia) dan Juliet (Pertiwi Febriani) yang ditentang oleh kedua orang tua masing-masing. Kabayan bermaksud menolong mereka agar terhindar dari peristiwa yang tragis dan legendaris seperti yang diceritakan William Shakespeare.

Kabayan dan Iteung heran melihat orang-orang yang berpakaian aneh, berbeda dengan mereka. “Aaah Kabayan! Aya orang planet!” teriak Iteung saat melihat Pangeran Paris (Messy B.), Pangeran Denmark (Tri Mustika) dan Pangeran England (Santy Rahmawati). “Enya, planet bumi seperti kita,” kata Kabayan sambil menenangkan istrinya yang sedang ketakutan itu. Ketiga pangeran itu menanyakan asal Kabayan dan Iteung. “Apa mungkin kalian suruhan Romeo dan Juliet?” tanya Pangeran Denmark. Bukan menjawab pertanyaan tiga pangeran itu, Kabayan malah bersorak, “teu nyangka kita sudah memasuki jaman Romeo dan Juliet, Iteung!”

Setiap pergantian babak, seluruh lampu dipadamkan sambil diiringi musik. Baru setelah dua sampai tiga menit, lampu menyala dan cerita pun dilanjutkan. Latar dan properti pun terlihat sederhana, hanya empat box hitam untuk setiap adegan Romeo dan Juliet, sementara adegan Kabayan dan Iteung hanya ada alas tidur, meja dan dua benda yang disebut-sebut sebagai mesin waktu.

Meski begitu, candaan yang mengandung kritikan kerap kali dilontarkan beberapa tokoh dalam teater ini. Misalnya, ketika Kabayan dan Iteung sedang berdialog menggunakan Bahasa Sunda, datang sutradara (Santika) yang marah pada mereka. “Kalian itu bagaimana? Ini kan sudah masuk jaman Romeo dan Juliet di Eropa, masa pakai Bahasa Sunda?” ujar sutradara dengan nada tinggi. “Ya kita kan pentasnya juga di tanah Pasundan, sudah seharusnya atuh pakai bahasa Sunda. Itung-itung pelestarian budaya bukan hanya sekedar wacana,” tandas Kabayan.

Menurut Pemimpin Produksi pementasan itu, Nur Hidayat Santoso, pesan yang ingin disampaikan dari teater ini adalah kritikan terhadap pemerintah tentang bahasa lokal yang akan dicoret dari daftar mata pelajaran di sekolah. “Salah satunya mengkritisi isu bahasa daerah yang sudah mulai dihapuskan,” ujar Hidayat pada isolapos.com, Selasa (13/5). Ini juga, lanjut Hidayat, menjadi salah satu bentuk ajakan pada masyakarat untuk lebih mencintai Bahasa Sunda.

Pementasan yang berjudul “Kabayan di Negeri Romeo” itu berlangsung selama 120 menit. Kabayan dan Iteung tidak bisa mengubah takdir kisah Romeo dan Juliet yang meninggal dunia seperti yang dikisahkan Wiliam Shakespeare itu. Hal mengejutkan muncul di akhir cerita. Perjalanan Kabayan dan Iteung melewati waktu itu, nyatanya tak pernah terjadi. Itu semua hanya mimpi Kabayan saja. [Melly A. Puspita].

Comments

comments