Fasilitas Minim, Teater Lakon Tetap Tampil Memukau

60

Bumi Siliwangi, Isolapos.com

Sebuah naskah karya Nano Riantiarno kembali dipentaskan di atas panggung. Naskah tersebut tak lain adalah naskah dengan judul “Jam Dinding yang Berdetak” yang dimainkan oleh kelompok Teater Lakon Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Pergelaran yang dipentaskan di Gedung Gegeut- Winda Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) itu berhasil menarik ratusan penonton, hingga membuat susasana di dalam gedung terasa begitu sesak.

Namun begitu, para apresiator tetap menikmati suguhan drama besutan sutradara muda Chayanda Nurhadi Hasan itu. Tak tanggung-tanggung, sebagian dari mereka rela lesehan demi menyaksikan pertunjukan itu. Pertunjukan yang dipentaskan oleh enam aktor itu sekaligus menutup seluruh rangkaian pertunjukan Resital 2014 Teater Lakon, yang telah berlangsung sejak hari Selasa lalu.

Di atas pentas pertama kali, sebuah keluarga kecil begitu disibukkan dengan banyak masalah. Masalah demi masalah dipertontonkan oleh para aktor. Semuanya berakar dari masalah klasik sebuah keluarga, yakni kemiskinan. Tokoh Mary( Kamila) begitu sibuk menghadapi masalahnya sebagai Ibu Rumah Tangga. Selain tak mampu lagi menyediakan hidangan mewah untuk anak dan suaminya, ia pun tak mampu lagi memenuhi kewajibannya sebagi seorang istri. Hal itu membuat dirinya harus merelakan suaminya mencari perempuan lain demi memenuhi hasratnya.

Sementara sang suami, Thomas (Kamil Mubarok), tidak bisa berbuat apa-apa lagi menyaksikan kemiskinan yang semakin menjepit keluarganya. Dampak diPHK dari pekerjaannya membuat kehidupan rumah tangganya sangat memprihatinkan. Sebagai seorang buruh kecil di perusahaan konveksi, anak pertama mereka, Magda ( Ricilya), tak mampu berbuat banyak membantu memcahkan masalah kemiskinan keluarganya. Begitu pula dengan Benny (Rendra Wicaksono)  yang harus berhenti kuliah karena permasalahannya di kampus yang sering menentang kesemena-menaan para birokrat.

Masalah keluarga Thomas mencapai puncaknya tepat di hari ulang tahun pernikahannya dengan Mary. Demi untuk menyediakan makanan seadanya, Mary terpaksa harus melakukan hal yang sangat dibenci Thomas. Ia terpaksa memotong rambut hitam nan lebatnya, lalu menjualnya kepada seseorang yang telah menginginkannya sejak dulu. Selain itu, Thomas sangat menginginkan Mary untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Lagi-lagi Mary menolak karena alasan tak mampu. Thomas begitu marah dan pergi menemui perempuan lain di luar sana. Tak lama berselang, seorang polisi datang memberi informasi bahwa suaminya mengalami kecelakaan bersama selingkuhannya.

Lampu meredup dan semakin gelap, menandakan pertunjukan itu telah usai. Sorak sorai serta tepuk tangan kepuasan dari penonton menggema di Gedung PKM. Seorang apresiator yang juga seorang dosen di Jrurusan Psikologi UPI, Mif Baihaqi, menyampaikan kepuasannya terhadap pertunjukan tersebut. Menurutnya, Penata Artistik pertunjukan ini sangat kreatif menyiasati ruang PKM yang begitu sempit. “Temen-temen Lakon menyadari hal itu (Sempit- red) makanya membuat setting rumah berbentuk trapesium,“ ungkapnya kepada isolapos.com seusai pementasan, Jumat (28/2).

Selain itu, Mif juga menyampaikan harapannya agar kelak lampu di Gedung PKM ini bisa dipatenkan. Menurutnya yang perlu diperbaiki itu bukan hanya keramik dan meninggikan aspal jalan saja, melainkan juga fasilitas mahasiswa untuk bisa berekspresi berkreasi. “Kan Pembina Lakon itu Dosen Seni Rupa, pasti tahu bagaimana mematenkan lampu,” ungkapnya. Sama halnya dengan Mif, sang sutradara pun menyampaikan kritiknya terhadap pihak fasilitas UPI. Menurut Chayanda, Gedung PKM ini masih sangat jauh dari kata standar sebuah gedung pertunjukan. Ia mengakui, permasalahan lighting dan pemasangan backdrop merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah pementasan.

Pada akhirnya, ia mengakui faktor ketidaklayakan gedung pertunjukan itu membuat vokal para aktornya pecah, hingga membuat pertunjukan terganggu. Terkait pemilihan gedung pertunjukan yang memilih gedung PKM, Chayanda menjelaskan jika sebetulnya untuk ukuran UPI, Gedung PKM itu lebih layak daripada Gedung Kebudayaan atau Amphiteater. “Tak usah disebut Amphiteater lah,” tutur Chayanda mengungkap kekecewaannya di akhir wawancara. [Tatang Zaelani Tirtawijaya].

Comments

comments