SM3T tak Jadi Patokan Guru Profesional

99
ilustrasi

Bumi Siliwangi-isolapos.com

“Bukan SM3T  (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal-red)  yang menjadi patokan guru profesional,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Ahman. Menurutnya, untuk menjadi guru profesional, intinya ada pengalaman mengajar sebelum masuk Pendidikan Profesi Guru (PPG).

 “Nah kami di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan-red), Asosiasi LPTK menyepakati sebetulnya bukan SM3Tnya, tapi intinya punya pengalaman dulu,” ucapnya ketika ditemui isolapos.com di ruanganya, di ruangan  dekan FIP UPI, Rabu (12/03).

Kemudian Ahman juga menjelaskan bahwa jika dalam konsep yang disusun LPTK, kebetulan nantinya itu tidak harus SM3T, tapi mereka mengajar di daerah yang kekurangan guru. Ahman menjelaskan bukan hanya daerah 3T saja yang memerlukan tenaga guru. ”Prakteknya tidak hanya ikut SM3T saja,” jelasnya.

Tak hanya Ahman, hal serupa pun diutarakan  salah satu dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Johar Permana,  menurutnya bahwa program SM3T merupakan program pengabdian yang dibiayai oleh pemerintah untuk mengajar di daerah 3T. “Setelah melaksanakan pengabdian akan masuk sertifikasi, program yang memang semacam sudah lulus s1 masuk SM3T, semacam program pengabdian saja,” tutupnya. [Restu PuterI]

Comments

comments