Lynne Hill: Para Pengajar Tidak Mencapai Komponen Literasi yang Diperlukan

106
IMG_9363
Sunaryo Kartadinata saat memberikan materi, Peran Pedagogi dalam Pendidikan Guru, di Gedung Achmad Sanusi UPI, Selasa (15/9)

Bumi siliwangi, isolapos.com- “Pengajar tidak mencapai komponen literasi yang diperlukan dan mereka gagal untuk memenuhi kebutuhan dari beberapa siswa tertentu seperti siswa yang mengulang, pembicara yang tidak berbahasa Indonesia, dan anak yang memiliki kebutuhan pedidikan khusus,” ujar Lynne Hill, Teaching and learning Advisor dari USAID, pada acara “6th International Pedagogy Seminar” di Gedung Achmad Sanusi, Senin (15/9).
Menurut Lynne, para pengajar anak usia dini terbatas dipemahaman tentang bagaimana mendidik anak-anak belajar membaca dan penggunaan strategi pembelajaran membaca. Sedangkan siswa usia dini (7-9 tahun) juga memiliki keterbatasan dalam kecakapan bahasa lisan. Hal itu bisa memiliki dampak negatif terhadap kemampuan membaca anak anak usia dini.

Membaca, menurutnya hanya diajarkan sebagai latihan terisolasi, bukan diajarkan sebagaimana tujuannya, yaitu untuk berkomunikasi. “Reading is taught as an isolated decoding exercise and is not embedded in a literacy context where the focus of literacy is communication for, (Membaca diajarkan sebagai latihan terisolasi dan bukannya di tambatkan pada konteks melek huruf, dimana melek huruf itu sendiri ditunjukan untuk komunikasi berarti-red),” tuturnya.

Lanjut Lynne, membaca harus dimengerti sebagai Developmetal Continuum (rangkaian pengembangan-red). Pengajar harus tahu ditaraf manakah kemampuan membaca siswa-siswanya dan memberikan instruksi dan materi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan membaca siswa-siswanya.
Dalam rangkaian acara seminar pedagogik itu pun, Advisor pengajaran dan pembelajaran USAID ini menyampaikan pula salah satu dari produk USAID PRIORITAS (USAID Prioritizing Reform, Innovation, Opportunities for Reaching Indonesia’s Teachers, Administrators and Students), yaitu program membaca ‘sama tingkat’. Dengan program ini, menurutnya secara spesifik pengajar dapat menggunakan materi bacaan yang telah dirancang untuk memperkenalkan kemampuan yang berurut dan terkontrol. Materi bacaan yang dibuat memudahkan pengajar bisa membentuk kemampuan dan strategi menggunakan materi bacaan sebagai fokus utama kelas. Pembelajaran pun disampaikan dalam kelompok kecil, dan menggunakan teks yang cocok dengan taraf siswa anggota kelompok. [Magang/ Agung Sugiarto]

Comments

comments