Kehidupan Menjemukan dalam Film Power Off

26

Oleh: Firdhayanti

Purnawarman, isolapos.com— “Budaya pamer dan pencitraan merusak interaksi dunia nyata”, ujar salah satu audiens yang memberikan apresiasi pada film berjudul ‘’Power Off’’ disela-sela Sharing Session pada acara Cinephoria Vol. 4, Sabtu (18/3) di Institute Francais Indonesia (IFI).

‘’Power Off’’ merupakan film pendek yang menceritakan kehidupan seorang gadis yang hanya bermain media sosial melalui gawai, mulai dari bangun tidur hingga ia hendak tidur kembali. Banyak dari update status-nya hanyalah pencitraan yang berbeda jauh dengan kehidupan nyatanya.

Layaknya film pendek, “Power Off” hadir dengan dialog dan backsound musik yang minim. Pada sesi yang sama, Rendi mengatakan, film ini sangat mencerminkan kehidupan masa kini. “Filmnya jujur, dari perspektif saya kenapa filmnya ngebosenin karena kehidupan manusia se-ngebosenin itu sekarang,” sindirnya.

Maudy, sutradara Film Power Off sekaligus perwakilan dari Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB mengaku, film ini terinspirasi dari keseharian manusia zaman sekarang yang hobi scrolling dari gawainya. “Awalnya melihat teman (lingkungan,-red) sendiri. Lalu ingin mencoba menyampaikan karena banyak yang seperti itu. Sebenarnya di awal sempat mengalami kesulitan karena pengemasannya (film referensi, –red) beda-beda,” jelasnya di atas panggung.

Film ini merupakan satu dari lima film terpilih yang ditampilkan dalam acara rutinan Cinephoria. Acara ini diselenggarakan oleh Forum Film Telkom (FFT) Telkom University sebagai wadah dan tempat apresiasi para sineas muda. Proses pemilihan film dikuratori oleh para dosen dan pihak FFT. Selain ‘’Power Off’’ terdapat empat film lain yang juga diputar, yaitu “Plaga”, “Putar Balik”, “Prototype for Her” dan “Alas Lali Jiwo”.[]

Comments

comments