Mengangkat isu-isu sosial melalui Mahautpatti

90

Oleh: Chika Jasmine

Bumi Siliwangi, Isolapos.com,-Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas 4C, Universitas pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan sebuah pagelaran dengan tajuk ‘Mahaupatti’ pada Senin (20/05) di Amphiteater UPI. Pagelaran teater ijin mengangkat isu-isu yang ada di masyarakat seperti isi korupsi. 

Pagelaran ini dilaksanakan sebanyak 2 sesi. Sesi siang pada pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, kemudian sesi pada malam hari pada pukul 19.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. 

Menurut sang narator, pagelaran ini mengambil tajuk ‘Mahautpatti’ yang berasal dari 2 kata yaitu, ‘Maha’ dan ‘Utpatti’. Kata ‘Maha’ sendiri diambil dari judul pertunjukan terkenal ‘Mahabharatha’ yang mengisahkan tentang 5 orang pandawa, selaras dengan pertunjukan ini yang diperankan oleh 5 orang pandawi. Sedangkan kata ‘Utpatti’ berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna Upeti. 

Salah satu penulis naskah pagelaran ini, Reza Aulia Putri, menuturkan bahwasannya mereka mengambil tema ini untuk mengangkat isu korupsi yang marak di sekitar kita. “disini yang paling diangkat itu tentang korupsi,”. 

Selain isu korupsi, pagelaran ini juga mengangkat isu lain yang sangat dekat dengan masyarakat. Diantaranya yaitu isu pendidikan. Isu ini ditampilkan dengan adegan anak anak yang bersekolah tanpa buku yang memadai. Bahkan, guru yang mengajar pun tidak ada dikarenakan gaji yang tak dibayar akibat dari korupsi. Alhasil, anak anak tersebut belajar tanpa pengajar, namun mereka bahagia akan hal itu. Mereka merasa tidak perlu belajar dan tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah

Isu selanjutnya yaitu mengenai isu infrastruktur. Dimana dalam pertunjukan ini, infrastruktur desa Hastinapura tidak ada kemajuan walaupun sudah menggelontorkan uang yang cukup banyak. Bahkan, beberapa siswa harus terkena runtuhan proyek gagal yang ditinggalkan begitu saja. 

Isu infrastruktur ini diikuti dengan isu korupsi dimana para pengelola infrastruktur gagal tersebut justru berusaha membungkam warga yang tertimpa reruntuhan. Hal ini dilakukan agar warga tidak angkat bicara mengenai infrastruktur yang gagal, dan tetap diam. Agar mereka tetap dipandang baik oleh masyarakat dan tetap bisa menduduki kekuasaan di desa Hastinapura. 

Isu selanjutnya yaitu mengenai isu kesehatan. Anak anak yang sempat tertimpa infrastruktur gagal sebelumnya tidak mendapat perlakuan yang baik dari pihak kesehatan. Puskesmas desa yang dikuasai oleh Duryudana meminta agar mereka melalui jalur administrasi. Sedangkan korban nampak harus segera ditindak lanjuti. Pihak kesehatan terlihat tidak begitu peduli akan korban bahkan terkesan menelantarkan karena korban tidak membawa kartu jaminan kesehatan. 

Isu terakhir yakni mengenai isu feminisme. Dimana perempuan selalu dianggap lemah oleh laki-laki. Bagaimana kelima Pandawi harus terus dilecehkan secara verbal oleh pasukan Duryudana. Dalam pagelaran tersebut, tokoh Duryudana digambarkan sebagai karakter yang merasa bahwa kekuatanlah yang lebih penting dibanding kepintaran. Sehingga perempuan yang memiliki tubuh lemah tidak bisa memimpin sebuah desa. Padahal, perempuan dan laki-laki memiliki kelebihan masing-masing dan sama-sama memiliki hak untuk menjadi seorang pemimpin. 

“Ksatria bukan hanya terlahir sebagai seorang lelaki. Namun perempuan juga dapat terlahir sebagai pedang dan terlahir sebagai panah. Dapat terlahir sebagai api yang membara.” Tutur sang narator. 

Pertunjukan ini dimeriahkan oleh adegan perang yang sangat mendebarkan. Di mana kelima Pandawi harus mengalahkan pasukan Duryudana untuk dapat menurunkan Duryudana dari kedudukannya dan membenahi keadaan desanya. Namun, pertunjukan ini berakhir dengan open ending. Salah satu pandawi masih bertahan ketika keempat saudarinya mati di medan perang. Begitu pula Duryudana yang masih hidup, ketika seluruh pasukannya telah tumbang. Duryudana berakhir dengan pertarungannya melawan salah satu pandawi yang tersisa. Akan tetapi tidak dijelaskan siapa pemenang akhir dari perang tersebut. Penulis naskah menuturkan bahwa hal ini disengaja karena dalam kehidupan selalu ada baik dan buruk. Keburukan pasti selalu ada dan tidak akan ada habisnya. Baik dan buruk akan selalu sejalan. 

“Ibaratnya kejahatan atau ketidak baikan itu tidak akan ada ujungnya. Pasti baik dan buruk itu selalu berbarengan.” Jawabnya ketika ditanya mengapa akhir cerita dijadikan open ending. 

Ameliana selaku pimpinan produksi menyatakan harapan diadakan pagelaran ini adalah untuk menunjukan bakat dan kreatifitas mahasiswa, juga sebagai perantara penyampaian pesan moral dan sosial kepada khalayak. 

“Pagelaran ini tidak hanya untuk menunjukan bakat dan kreatifitas mahasiswa saja. Tetapi untuk mengirimkan pesan pesan sosial dan moral pada penonton yang ada.” Ucapnya. 

Tak hanya pimpinan produksi, Dosen pengampu mata kuliah pagelaran sastra, Deka Dwi Agusti Ningsih, menuturkan harapan yang tidak jauh berbeda untuk pagelaran Mahautpatti ini. Ia berharap agar pagelaran ini dapat menjadi alternatif hiburan juga penyampaian pesan sosial pada penonton. 

“Melalui pagelaran kami ini, besar harapan kami selain dapat memberikan alternatif hiburan bagi para penonton juga dapat kita maknai bersama sebagai bahan pengamalan nilai nilai sosial yang bersifat universal.” tuturnya. 

Pagelaran ini dilaksanakan sebanyak dua sesi. Sesi pertama yaitu pukul 13.00-15.00 WIB, kemudian sesi kedua pada pukul 19.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

Redaktur: Nabil Haqqillah

Comments

comments