Warna-warni Musik di Balik Jeruji

129
Sandy, Vokalis WarnaPas Band ketika menyanyikan lagu Muse, di Lembaga Pemasyarakatan Kebon Waru Bandung, Sabtu (19/3). Nama WarnaPas Band diambil dari singkatan Warga Binaan Pemasyarakatan, personil band ini terdiri dari Warga Binaan yang memiliki berbagai keterampilan dalam modern band. (isolapos.com/Reza A Pratama)
Sandy, Vokalis WarnaPas Band ketika menyanyikan lagu Muse, di Lembaga Pemasyarakatan Kebon Waru Bandung, Sabtu (19/3).
Nama WarnaPas sendiri diambil dari singkatan Warga Binaan Pemasyarakatan, dan personil band ini terdiri dari Warga Binaan yang memiliki berbagai keterampilan dalam modern band. (isolapos.com/Reza A Pratama)

 

Oleh : Reza A Pratama

Bandung, isolapos.com

Di balik sebuah gerbang besar dan pengawasan ketat sipir-sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kebon Waru Bandung. Tidak ada yang menyangka bahwa dari sana muncul sebuah geliat kreativitas yang menghasilkan warna-warni musik.

Mungkin orang-orang akan beranggapan bahwa di tempat seperti Lapas Waru hanya akan ada kekakuan, aturan, dan hal-hal berbau pengekangan. Apalagi ditambah paradigma sebuah instansi yang sangat lekat hubungannya dengan kriminalitas dan tindak-tanduk negatif lain.

Tapi siapa sangka, ketika pertama kali masuk melewati sebuah gerbang besar sambil mengalungi tanda pengenal bertuliskan “Tamu”, yang kami dengar bukanlah kesengsaraan atau seperti pemikiran-pemikiran barusan. Melainkan sebuah lantunan solo gitar lagu Hysteria gubahan Muse yang menggema dari sebuah ruangan.

Sebelum akhirnya sampai di pusat suara. Sempat juga terlihat banyak kegiatan seperti diperbengkelan hingga menanam tanaman yang dilakukan oleh warga binaan, sebuah pemandangan yang akhirnya mengubah persepsi tentang instansi ini. Bahwa ternyata banyak kegiatan positif yang terjadi bahkan mungkin lebih positif dibanding di luar.

Ketika membuka pintu di ruangan sumber suara tersebut. Betapa hebatnya aksi para Warga Binaan yang memainkan lagu Muse dengan piawai. Bahkan sepertinya permainan mereka tidak kalah dari Muse itu sendiri. Seisi ruangan pun digetarkan oleh suara vokal yang luar biasa juga diiringi oleh aransemen yang diracik dengan indah. Akhirnya muncul sebuah pertanyaan, dari mana datangnya orang-orang luar biasa ini?

Band yang baru saja memberi warna-warni di Lapas Waru ini dikenal dengan nama WarnaPas Band. Diambil dari singkatan Warga Binaan Pemasyarakatan, personil band ini terdiri dari Warga Binaan yang memiliki berbagai keterampilan dalam modern band. Entah apalagi yang tak bisa mereka kuasai. Berbagai jenis musik dapat mereka mainkan dari genre rock macam Muse hingga yang beraliran pop masa kini seperti Writing’s On The Wall yang dipopulerkan oleh Sam Smith.

Tempat Lahirnya Kreativitas

Disinggung mengenai latar belakang, masing-masing personil yang masuk ke WarnaPas bukanlah orang yang awan dengan dunia musik. Entah itu menjadi penyanyi profesional di cafe atau sekadar pengamen di jalanan. Apalagi gitarisnya Idot mengaku pernah menjadi personil Pure Saturday, salah satu band yang cukup terkenal di Bandung. Dengan beragam background yang unik tersebut telah membuat WarnaPas lebih berwarna.

Perawakannya gempal dan kulit sedikit hitam dengan suara yang luar biasa, pria itu dipanggil Sandy, vokalis utama WarnaPas. Sandy menjadi personil WarnaPas sejak 2 bulan pertama di Lapas. Keinginan Sandy bergabung dengan WarnaPas dikarenakan penasaran dengan penampilan WarnaPas yang terdengar sampai bloknya.

Menurut Sandy, studio kecil tempatnya berkreasi itu merupakan tempat lahirnya kreasi dan nilai-nilai positif. “Jarang-jarang lah ada fasilitas yang namanya di ‘penjara’, orang-orang kan pada negatif pandangannya, tapi kita dateng kesini jadi positif,” ujarnya saat ditemui isolapos.com, Sabtu, (19/03) . Dia menambahkan bahwa banyak pengalaman dan ilmu yang dapat dia peroleh di sini dibandingkan di luar.

“Semua talentnya luar biasa, banyak potensi, banyak ilmu yang bisa saya petik,” ujar Sandy. Dia mengaku telah mendapatkan banyak ilmu lewat pembinanya sekaligus mentor-mentor yang dia kenal sebagai teman satu bloknya. Sandy menilai talenta yang ada di WarnaPas sangat luar biasa dan memiliki potensi yang terpendam. Banyak personil yang dapat menguasai lebih dari satu alat musik bahkan gitarisnya Idot dapat memainkan alat musik tradisional juga.

Sandy mengatakan pengalaman masuk ke bui merupakan sesuatu yang tidak mungkin diinginkan oleh setiap orang, namun setelah berkegiatan di WarnaPas Sandy justru bersyukur dapat mengenal band ini. Pria berumur 28 Tahun ini sudah menjalani masa tahanan selama 6 bulan dan menurutnya dengan bergabung di WarnaPas dapat membuat kejenuhannya selama di balik jeruji besi teratasi. Dengan sedikit bercanda Sandy bahkan berkata banyak teman-temannya datang ke studio untuk menyalurkan kegalauan patah hatinya. “Bisa gila kalo gaada ini,” ujar Idot yang juga merangkap sebagai vokalis tambahan di WarnaPas.

Sandy juga berharap untuk dapat berkumpul lagi dengan WarnaPas jika nanti pada akhirnya mreka sudah menghabiskan masa tahanan. Pria asal cimahi ini sudah terlanjur nyaman dengan kekompakan di WarnaPas dan dia berharap bisa berkarir bersama dalam dunia musik. Sandy bahkan bercanda dengan dua personil WarnaPas yang sebentar lagi habis masa hukumannya kalau mereka pasti akan kembali lagi ke WarnaPas.

Regenerasi WarnaPas

Masalah perputaran personil selalu menjadi isu utama bagi WarnaPas. Hal itu yang selalu membuat band ini harus selalu memutar otak untuk mendapatkan personil baru. WarnaPas sendiri sudah berdiri sejak 2002 dan sudah melalui pergantian personil lebih dari sekali. Hal ini dikarenakan masa hukuman personil yang tidak sama dan juga ada kemungkinan perpindahan lapas yang sering terjadi.

Hal ini terkadang dapat membuat warna musik WarnaPas berubah. Misalnya saja vokalis terdahulu memiliki aliran rock dan selalu membawakan lagu Jamrud, namun sekarang berganti menjadi lebih soft dan beraliran pop. Permasalahan pelik terjadi ketika mereka tidak dapat mencari pengganti yang serupa dan akhirnya harus merancang kembali struktur WarnaPas.

Akhirnya mereka harus mengadakan audisi dan rekrutmen yang dilakukan untuk mencari bakat yang potensial. Hal itu menjadikan WarnaPas berlapis-lapis, setiap blok bisa memiliki band sendiri dengan nama WarnaPas. Band-band yang diusung tiap blok itu akhirnya akan diseleksi untuk mengisi tempat utama di WarnaPas untuk mengisi event-event tertentu.

Semuanya Sama Rata

WarnaPas sebagai band yang terikat institusi pemasyarakatan tanpa disangka telah menorehkan banyak prestasi dalam event-event yang ada. WarnaPas sempat menjadi pemenang dalam event Lapas Wanita dan Anak Sukamiskin juga sempat mengisi parade di sana.

Tidak hanya terbatas dalam event pemasyarakatan internal saja. WarnaPas pernah mengisi event Badan Narkotika Nasional (BNN) yang diselenggarakan di luar Lapas seperti di berbagai SMK di Bandung. Mereka tetap mendapatkan pengawalan, namun apresiasi yang di dapat di sana sangat luar biasa. “Lumayanlah apresiasinya, padahal mereka gatau kita penjahat” ujar Asep, Pembina WarnaPas, seketika seisi ruangan tertawa terbahak-bahak.

Prestasi-prestasi tersebut bukan lain merupakan hasil kerjasama yang baik antara warga binaan dan pembina-pembinanya. Sandy mengatakan semua orang disini bekerja sama seperti tidak ada sekat di antara mereka. Bahkan mereka juga sering berlatih dengan para sipir lain yang mempunyai bakat musik ketika sedang mengisi waktu.

Hal ini dibenarkan oleh Muchtar, salah satu pembina WarnaPas. Menurutnya sekalipun mereka memiliki batasan sipir-warga binaan, tetapi tujuan utama dari pembinaan ini adalah “memanusiakan manusia”. Ia menambahkan, setiap warga binaan juga memiliki hak dan kewajiban. Mereka mempunyai hak untuk menyalurkan segala bakat dan mengikuti segala kegiatan yang meningkatkan keterampilan mereka, namun mereka juga masih mempunyai kewajiban mengikuti tata aturan di sana “Ngga ada beda kasus apapun semuanya sama, cuma kita memperlakukannya seperti saudara,” katanya saat ditemui redaksi, Sabtu, (19/03).

Perlu Wadah

Namun salah satu yang paling dikhawatirkan oleh para pembina WarnaPas adalah tidak tersedianya wadah bagi personil yang telah hengkang dan keluar dari Lapas Waru. “Ngga jarang mereka keluar jadi pengamen lagi, kalau disini event nya di panggung-panggung, di sana mereka event nya di jalanan,” ucap Asep.

Batasan yang terjadi juga dikarenakan perijinan yang sulit. Mereka tidak dapat mengikuti acara di luar seperti band-band lain. Padahal dilihat dari segi kualitas, WarnaPas perlu diacungi jempol. Dalam lomba mengarang lagu pun mereka dapat menuntaskannya dalam 2 minggu saja.

Muchtar menambahkan, seharusnya pembinaan pemasyarakatan itu tidak terhenti di Lapas saja. Pemerintah harusnya melanjutkan pembinaan itu dengan menyediakan wadah bagi warga binaan yang telah ke luar untuk berkreasi. “Mereka itu masuk ke sini kadang karena masalah perut, pemerintah harus punya tindak lanjutnya, saya yakin penjara bakal sepi,” pungkas Muchtar.

Namun kadangkala personil yang telah keluar pun selain telah sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka juga masih sering menyempatkan untuk menjenguk teman-temannya di WarnaPas. Tak jarang mereka juga menawarkan bantuan ketika ada perlombaan atau event-event di luar. Berbagai kedekatan inilah yang akhirnya mengikat tali persaudaraan di WarnaPas sehingga menjadi berwarna-warni. []

Redaktur : Syawahidul Haq

Comments

comments