Jalan di Tempat, Grak!

4

Indonesia tidak ke mana-mana kok! Periksa lagi isi bacaan kalian dan lihat kemudian apakah yang dikisahkan kemarin masih lestari di hari ini?

Oleh: Muhammad Tristan Shah Jahan*

“Sejarah adalah percakapan kemanusiaan di masa lampau”. Begitulah (kira-kira) sejarawan JJ Rizal memoles pengertian lain dari sejarah, ketika memantik diskusi pada acara diskusi panel, Narratives of Ideas, Solidarity, and Expressions 2026 (NOISE 2026), di Gedung Amphitheater, Universitas Pendidikan Indonesia” pada 22 Mei yang lalu.

Kalau didefinisikan sebagai “percakapan”, maka sejarah bukanlah barang mati yang usang, renta, tiada berguna. Durhaka betul yang belakangan menyebut kalau (ilmu) sejarah tidak relevan dengan kebutuhan industri. Karena sejatinya sejarah ibarat bandul yang mengulang-alik jawaban maupun persoalan baik kemarin, baik kini, atau baik nanti.

Melihat Indonesia hari ini juga mesti dilihat mengulang-alik. Jangan kita terlontar terlalu jauh ke masa silam atau menembak terlalu kencang ke masa mendatang. Indonesia sebagai wacana perlu dilihat sebagai proses historis, kesatuan dari situasi kekinian, hingga imaji keberlanjutan. Sehingga horison tentang perkembangan bangsa ini dapat digariskan secara jelas dan meluas.

Bahkan pendekatan kesejarahan dapat kita gunakan untuk melihat persoalan-persoalan apa saja yang terjadi di bangsa ini. Sejarawan Djoko Suryo dalam, “Transformasi Masyarakat Indonesia dalam Historiografi Modern”, menyebutkan bahwa eksistensi jalinan mutlak kemarin-kini-nanti dialami oleh manusia di kehidupan sehari-harinya dan terjadi suatu perubahan serta kelangsungan yang memberi makna terhadap kehidupan manusia tanpa menolak perkembangan waktu keseluruhan.

Boleh dibilang meski waktu sudah usang, namun wajah Indonesia dalam kontinum kemarin-kini-nanti selalu seirama dalam pola dan seiras dalam jiwa tiap zamannya.

Krisis belakangan yang terjadi baik secara struktural maupun epsitemik di Indonesia belakangan ini, kalau ditelisik secara historis nyatanya sangat identik dengan Indonesia di masa lampau. Pola, jiwa hingga kelangsungannya nyaris “jalan di tempat”. Coba periksa lagi literatur-literatur sejarahnya.

Saya ketika memeriksa kembali dua karya monumental sejarawan Takashi Shiraishi, yakni “Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926” dengan “Dunia Hantu Digul: Pemolisian sebagai Strategi Politik di Indonesia Masa Kolonial, 1926-1941”, saya menemukan hal menarik!

Brutalitas aparat kolonial yang menangkap aktivis-aktivis pergerakan yang menganggu rust en orde (ketenangan dan ketertiban) dan kemudian dijebloskan ke neraka Boven Digoel, identik dengan brutalitas aparat kepolisian yang melakukan perburuan aktivis ketika Gelombang Aksi Agustus-September 2025 di Jakarta, Bandung, Makassar, Surabaya, dsb.

Atau buku “Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI” karya Ulf Sundhaussen. Padahal buku tersebut menjelaskan pasang-surut perkawinan dunia ketentaraan dengan dunia birokrasi pascakemerdekaan, tapi pembayangan saya malah tertuju kepada hari ini ketika TNI membentuk Batalyon Teritorial Pembangunan, jenderal-jenderal yang menduduki jabatan sipil, hingga tentara yang masuk kampus.

Riset dari Shiraishi dan Sundhaussen terbilang jadul,namun realitas yang disampaikan masih relevan di kehidupan kita sekarang. Apa yang dialami Mas Marco, Tjipto, Douwes Dekker, Semaoen, dan Hadji Misbach, dialami juga oleh teman-teman mahasiswa/aktivis yang ditangkap karena melakukan aksi-aksi belakangan ini.

Begitu pula generasi kini—Gen Z atau Gen Alpha—melihat bagaimana militer mengurusi pangan, kesehatan, infrastruktur, dsb. Mungkin itu yang dirasakan papa-mama, kakek-nenek, atau buyut mereka ketika hidup di bawah bayang-bayang Junta Militer Orde Baru?

Indonesia tidak ke mana-mana ‘kan? Masa lampau selalu aktual. Ketika kita membaca penyempitan ruang berekspresi di masa kolonial, detik itu juga kita membaca keganasan yang sama yang terjadi di masa sekarang.

Bercakap-cakap dengan masa lampau belum juga selesai ternyata. Durhaka yang kemarin mengatakan kalau (ilmu) sejarah tidak relevan dengan kebutuhan industri. Toh, riset yang sudah puluhan tahun juga masih relevan dibaca di hari ini.

Kejahatan yang terjadi sebad yang lalu juga masih ditiru oleh kekuasaan di hari ini. Jadi apa yang tidak relevan? Apa tidak relevan dengan kepentingan penguasa? Wallahu a’lam bish-shawab.

Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis yang bersangkutan

*Penulis merupakan Mahasiswa S1 Pendidikan Sejarah UPI Angkatan 2023.

You might also like