Sikap Anggota DPRD Terkait RUU-PT Terkesan Kamuflase

85

Gedung Sate, isolapos.com-

Anggota DPRD Komisi E yang juga Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional, Sukmana (tengah) saat memberikan pernyataan kepada massa aksi demonstrasi menolak RUU-PT, Selasa (10/4). Mahasiswa menilai pernyataannya sarat akan kampanye dan kamuflase.

Saat mahasiswa menggelar aksi menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang Perguruan Tinggi (RUU-PT) di pelataran Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat (DPRD Jabar), beberapa perwakilan mahasiswa sempat beraudiensi dengan anggota DPRD Jabar, Selasa (10/4).

Hampir dua jam menunggu, akhirnya perwakilan mahasiswa keluar bersama perwakilan Komisi E DPRD Jabar, yang juga ketua fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Sukmana. Sukmana diberi kesempatan untuk memberikan pernyataan kepada mahasiswa terkait RUU-PT.

Sukmana menyatakan bahwa sikapnya selaku fraksi PAN menolak pengesahan RUU PT jika tak sejalan dengan hak rakyat untuk mendapatkan pendidikan. “Semoga sikap ini juga menjadi sikap dari DPRD Jawa Barat, untuk menolak komersialisasi dan liberalisasi pendidikan,” kata Sukmana kepada para mahasiswa.

Meski telah memberikan pernyataan kepada para mahasiswa yang berdemonstrasi, mahasiswa menilai bahwa pernyataan Sukmana tidak tegas, dan malah terkesan berunsur kampanye. “Dia tak tegas mengatakan bahwa komisi E menolak pengesahan RUU-PT, malah mengatasnamakan diri dari ketua fraksi PAN,” kata Aldi Febrian, perwakilan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia.

Sependapat dengan Aldi, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPI, Hamdan Herdiansyah menilai bahwa sikap perwakilan DPR dari fraksi PAN tersebut hanya kamuflase belaka, meskipun menolak dan dia mau turun langsung namun seperti yang tidak sungguh-sungguh menolak. “ Jika saya lihat sikap DPR tadi itu seperti yang ngalor ngidul tidak langsung pada sasaran penolakan,” ujar hamdan.

Di penghujung aksi, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Seluruh Indonesia itu membacakan tuntutan kepada pemerintah untuk membatalkan rencana pengesahan RUU-PT, menghapus komersialisasi, liberalisasi dan privatisasi pendidikan dari sistem pendidikan indonesia, dan mendesak untuk meujudkan sistem pendidikan tinggi yang terjangkau tanpa diskriminasi.

Selepas itu, mereka membakar replika RUU-PT sambil menyanyanyikan lagu “Darah Juang” dengan khidmat disusul dengan teriakan “Hidup Mahasiswa Indonesia!”. [Isman R Yoezron]

Comments

comments