Restu: UKT Bisa Jadikan Biaya Pendidikan Semakin Naik

92
Sejumlah Mahasiswa UPI saat mendiskusikan Uang Kuliah Tunggal di Taman depan Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Selasa, (26/3).

Bumi Siliwangi, isolapos.com-

“Semakin tahun biaya pendidikan semakin mahal,” ujar Ketua Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) Restu Nur Wahyudin saat diskusi mengenai Uang Kuliah Tunggal (UKT) di  Heritage Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Selasa (26/3). Ia menceritakan sejak kuliah di UPI tahun 2009, biaya regitrasi UPI masih terjangkau. Ia membayar biaya registrasi sebesar Rp 7 juta dan biaya semester Rp 900 ribu. Sedangkan, tahun 2010 biaya semester bertambah menjadi Rp 1 juta meski biaya registrasi tetap sama.

Tahun 2011 dan 2012, lanjutnya, kenaikan itu sangat terasa. Biaya registrasi naik hampir 100%, sebelumnya hanya Rp 7 juta menjadi Rp 11 juta. Sementara biaya semester yang semula hanya Rp 900 ribu menjadi Rp 1,7 juta. “Sekarang dengan adanya wacana UKT ini bisa menjadikan biaya pendidikan di UPI akan bertambah naik,” tambah Restu.

Meski begitu, Restu mengapresiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang telah mengeluarkan kebijakan mengenai UKT ini. Menurutnya, dengan adanya UKT ini akan mengurangi pungutan liar dan biaya registrasi yang besar ketika menjadi mahasiswa baru. “Dengan adanya UKT mungkin akan mengeliminasi pungutan seperti itu,” ujarnya.

Salah satu anggota UKSK sekaligus pemateri dalam diskusi tersebut Nurfahmi Hasbulloh menuturkan, dalam harian Pikiran Rakyat, Rektor UPI Sunaryo Kartadinata mengatakan bahwa kisaran UKT yang akan ditetapkan di UPI sekitar Rp 4-5 juta setiap semesternya. Menurutnya, meski nanti mahasiswa tidak perlu membayar biaya registrasi, tetap saja akan memberatkan ketika mahasiswa harus membayar biaya semester Rp 4-5 juta.“Uang semester 1,7 juta rupiah juga sudah memberatkan dan banyak yang melakukan penangguhan, gimana nanti jika semesteran menjadi sebesar Rp 4-5 juta?” tanya Nurfahmi.

Nurfahmi menganalogikan adanya UKT ini seperti membeli motor dengan cara diangsur setiap bulan karena pembeli tidak bisa membayar motor dimuka. Jika nantinya pembeli tidak bisa membayar cicilan motor periode berikutnya, maka bersiaplah motor tersebut diambil oleh si pemberi cicilan. “Kalau mahasiswa sudah tidak mampu, nanti dicutipaksakan lalu di-dropt out, deh,”  ucapnya.

Senada dengan Nurfahmi, salah satu peserta diskusi Sany R Apriad, mengatakan bahwa UKT ini hanya perubahan regulasi saja seperti dimudahkan diawal namun tetap akan diberatkan juga. “Mungkin semester awal mereka bisa membayar tapi semseter selanjutnya apakah mereka bisa juga?” tanya Sany.

Sementara itu, salah satu peserta diskusi Suryadinulloh menilai UPI belum pantas menaikkan uang semester menjadi Rp 4-5 juta. Menurut mahasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam itu, kalau universitas lain seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) pantas menaikan uang semesteran menjadi Rp 10 juta karena secara kualitas memang diakui oleh masyarakat dan fasilitas serta pengajar yang ada juga bagus, “nah sedangkan di UPI?” sindirnya.

Peserta diskusi lain dari Himpunan Mahasiswa Persatuan Umat Islam Hilman Rasyid mengatakan, jika dilihat dari pernyataan rektor yang merencanakan UKT ini sebesar Rp 4-5 juta, sangat memperlihatkan perbedaan nyata dengan apa yang dikatakan oleh Mendikbud M. Nuh tentang himbauan UKT tidak boleh mengambil tarif mahal. “Ini sangat kontras sekali,” kata Rasyid.

Dalam akhir diskusi Restu menghimbau kepada peserta diskusi untuk menyikapi masalah UKT, menurutnya masalah ini merupakan masalah bersama yang harus dikritisi, “saya kira ini bukan merupakan akhir, kedepanya kita bentuk koalisi untuk mempersoalkan UKT.” [Rifqi Nurul Aslami].

Comments

comments