Polemik Program Tutorial UPI: Dari Permasalahan Teknis Berujung Tuntutan Evaluasi
Oleh: Rakha A.D., & Nasruddin A.
Bumi Siliwangi, isolapos.com
Pengurus Tutorial UPI Didesak untuk Berbenah
Beberapa minggu terakhir, pelaksanaan program Tutorial di lingkungan kampus UPI ramai dibicarakan di media sosial. Melalui unggahan di Instagram @upimenfess, banyak mahasiswa baru selaku peserta Tutorial merasa terbebani dengan pelaksanaan program tersebut. Kritikan yang muncul itu menyinggung kinerja pengurus Tutorial yang dinilai lambat dan tidak responsif dalam menanggapi kebutuhan peserta. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa program Tutorial hanya membuang-buang waktu para mahasiswa baru.
Komentar negatif terhadap program Tutorial memuncak ketika Sistem Informasi Presensi (Sipres) Tutorial UPI mengalami gangguan, sehingga beberapa peserta belum mendapatkan kelompok untuk sesi mentoring. Aksi ini berlanjut dengan terbitnya petisi di media sosial yang menginginkan agar sistem pelaksanaan Tutorial UPI dirombak total. Alasannya karena yang diharapkan peserta adalah sistem pendidikan keagamaan yang modern dan tidak didominasi oleh gaya pesantren. Per tanggal 15 Oktober 2026, jumlah mahasiswa yang menandatangani petisi tersebut (tercatat–Red) sekitar 235 orang.
Syahril, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2026 mengatakan bahwa ia sendiri tidak mempermasalahkan adanya program Tutorial. Hanya saja, ia mengkritisi sistem kepanitiaan yang menurutnya tidak kompeten.
“Kenapa kayak, mohon maaf kasarnya itu kayak gak becus banget gitu kan. Masa kayak dari ini mau bikin grup, dibikin kelompok, dari penginputan nama aja itu salah terus sampe revisi beberapa kali. Nah, terus dari kami juga kan jadi gimana ya, udah mah nyita waktu libur kita gitu kan.” ujar Syahril melalui wawancara dengan reporter Isolapos.
Ia menambahkan pula, beberapa mentor BBQ (Belajar Baca Quran) datang tidak tepat waktu, sehingga materinya tidak tersampaikan seluruhnya.
“Ujung-ujungnya pada datang baru jam 07.30, akhirnya ya mulai 07.30, akhirnya materi ga tersampaikan seluruhnya,” tambahnya.
Syahril juga menyayangkan perangkat teknis acara yang kurang maksimal. Mulai dari mic-nya yang sering mendengung, hingga perangkat pematerian yang tidak aksesibel oleh peserta barisan belakang. Sampai akhirnya, banyak mahasiswa yang harus menyontek resume karena layar yang tidak terlihat jelas dan suara audio yang tidak terdengar.
Arkan, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia lainnya, menerangkan seringkali terjadi miskomunikasi antara mentor dengan panitia yang membuatnya bingung harus menghubungi siapa untuk memverifikasi mentor dan kelompoknya.
“Nah, terus untuk yang tadi yang kayak data (kelompok–Red), ada kok miskomunikasi gitu loh, entah itu dari mentor-mentornya sama panitianya. Jadi waktu itu saya kan udah hampir tiga kali kalau nggak salah, nge-chat mentor yang berbeda, dan waktu mereka itu (mentornya bertanya–pen) ini siapa? Dia itu bener-bener tidak tahu kelompok berapa, bahkan dia juga nanya kalau dari BSI yang ikut BBQ siapa aja,” ujar Arkan.
Selain itu, ia juga mempersoalkan sistem presensi out yang menumpuk sampai ke dalam masjid, sedangkan banyak pengurus tutorial yang tidak membantu menjalankan presensi out. Pada akhirnya, terjadi penumpukan (barisan peserta–Red) yang tidak terkendali.
Safia, mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2026, turut mengomentari perizinan ke toilet yang harus menitipkan barang (buku dan kartu peserta–Red) kepada panitia supaya tidak kabur, yang menurutnya memberatkan.
“Cuma lebih ke yang waktu sedang acara, misalnya izin ke toilet atau apa-apa tuh, sampai waiting list, Kang. Misalnya kayak, aduh (seperti di–Red) kafe tuh gitu,” ujarnya.
Senada dengan Safia, Azhar yang juga merupakan teman prodinya, mengatakan bahwa sistem perizinan hanya memiliki jatah satu kali, dan Ia sempat ditolak izin sakit karena tidak menyertai bukti obat.
“Nah kebetulan, aku tuh izinnya satu, udah alpa tuh, karena waktu itu tuh izin, haid, beneran sampai nggak bisa jalan, terus aku di kos sendirian, emang nggak bisa buat jalan banget kan, nggak mungkin buat ke klinik juga. Aku tuh ngasih (konfirmasi–Red) perizinan, tapi sama adminnya ditolak, karena katanya nggak menyertai bukti obat,” tuturnya.
Setelahnya Safira menambahkan, untuk meningkatkan kualitas religius mahasiswa, perlu diperbaiki kualitas dosen PAI, dan menyarankan untuk memaksimalkan materi PAI di kelas dibandingkan menambahkannya di program Tutorial.
Safira memberi saran agar program Tutorial dibuat lebih efektif dan substantif. Terutama dari segi perangkat teknis yang perlu diperbaiki agar semua peserta benar-benar diakomodasi secara merata. Karena menurutnya banyak mahasiswa yang sekadar datang tanpa tujuan jelas, sehingga mengurangi esensi maknanya karena tidak membawa apa-apa dari program Tutorial tersebut.
Beberapa peserta Tutorial UPI berpesan kepada ketua umum program Tutorial, supaya staf atau anggotanya diarahkan agar membuat rangkaian kegiatan jauh lebih efektif, serta mempertimbangkan bagaimana supaya mahasiswa datang ke masjid dengan ikhlas, bukan karena tekanan akibat tuntutan akademis.
“Pesan-pesan ketua. Anak-anaknya mohon diarahkan. Terus acaranya buat lebih efektif. Gimana caranya kita tuh datang ke masjid itu. Bukan karena tertekan. Bukan takut karena harus. Karena emang kita mau belajar,” pesan dari salah satu peserta Tutorial UPI.
Tanggapan Dari Pengurus Tutorial
Menanggapi keluhan dari para mahasiswa peserta Tutorial, khususnya berkaitan dengan pembagian kelompok mentor, Ketua Umum Tutorial UPI, Dika Fihara, mengatakan bahwa Ia menyadari adanya kekeliruan tersebut dan sudah berusaha membenahi Sipres dengan memanggil bidang kepesertaan yang bertanggungjawab dengan kelompok mentoring.
“Dari sana kami coba benahi. Kami coba perbaiki datanya. Dan setelah itu, setelah satu hari kami perbaiki dan kami informasikan lagi, itu kelompok terbaru. Nah, kenapa kami mengambil keputusan untuk mengambil kelompok terbaru? Karena ini melihat daripada banyaknya kesalahan dari pembagian pertama. Kami memutuskan untuk membuat kelompok yang baru. Dan tentunya kami juga dengan pertimbangan yang matang,” ucap Dika.
Menyinggung banyak mahasiswa yang mengeluhkan pergantian kelompok yang berkali-kali, Ia tegaskan bahwa pergantian kelompok mentor Tutorial hanya satu kali ketika terjadi kesalahan data di Sipres. “…Bahwasannya pergantian kelompok ini hanya sekali. Hanya satu kali pergantian kelompok. Justru saya sebagai ketua Tutorial kurang menerima informasi (terkait–Red). Kalau misalnya ada yang menyatakan statement bahwasannya berkali-kali mengganti kelompok, itu salah banget. Karena dari kami pun hanya sekali mengganti kelompok. Apa buktinya? Kami di pekan kedua, kami menggunakan data, contoh kelompok A. Dan kami pergantian di pekan ketiga, data kelompok B. Dan itu tidak ada pergantian lagi. Jadi dari pekan ketiga, keempat dan seterusnya itu dengan kelompok yang sama,” tukasnya.
Dengan adanya kesalahan Sipres, presensi peserta, dan juga pembagian kelompok, Ia mengakui adanya kesalahan pada website Sipres yang terjadi pada pekanan ke-2 lalu. Ia bersama bidang yang bersangkutan sudah mencoba untuk memperbaiki di hari itu juga.
“Ada pun misalkan ada kesalahan data seperti misalkan ada yang presensi ini tapi tidak terdata. Itu lebih tepatnya ada kesalahan di sistemnya. Dan kami coba terus perbaiki,” ujar Dika.
Selain masalah sistem pada Sipres, Dika mengakui adanya kesalahan pengurus (human error) yang dapat menjadi bahan evaluasi pimpinan sekaligus pengurus Tutorial kedepannya.
Menurut Dika, banyaknya keluhan terhadap pelaksanaan sistem program Tutorial, bahkan sampai adanya petisi untuk membubarkan Tutorial, lahir dari kurang pahamnya peserta terhadap esensi Tutorial sebagai wadah untuk meningkatkan nilai religius yang menjadi salah satu misi dari Universitas Pendidikan Indonesia.
“itu petisi ‘Membubarkan Tutorial’ itu mungkin kalau pandangan saya pribadi itu, adalah orang-orang yang dalam artian belum memahami lebih dengan Tutorial. Mungkin disini saya bisa menyampaikan sedikit ya. Tutorial itu hadir sebenarnya memang menjadi salah satu program dari universitas. Itu program Universitas Pendidikan Indonesia yang mendukung nilai religius. kan di UPI itu ada tiga nilai: ada religius; ada edukatif dan juga ilmiah. Dan Tutorial itu hadir sebagai pendukung atau sebagai (pewujud–Red) visi, misinya adalah Tutorial. Tutorial itu membangun (serta–Red) mendukung visinya UPI, dan dari sana itu memperkuat sebenarnya.” jelasnya.
Selain menjadi misi UPI untuk meningkatkan nilai religius mahasiswa, Dika berpandangan bahwa program Tutorial dibuat sebagai benteng moral untuk menjaga pemahaman ajaran Islam bagi generasi muda saat ini, khususnya di UPI.
Dika juga meminta untuk mahasiswa yang ingin mengkritik pada sistem Tutorial untuk berdiskusi terbuka dengan para pengurus supaya menjadi bahan evaluasi bagi pengurus, dan menjadi solusi aspirasi untuk para peserta Tutorial. “Jadi ketika teman-teman semua peserta Tutorial, ketika memang ingin menyampaikan sesuatu saran, masukan, komentar, ataupun sebuah kritik coba sampaikan dengan baik-baik. Kalau perlu, bisa bertemu langsung.” ucapnya.
Tanggapan lain datang dari pembina program Tutorial UPI, Udin Supriadi. Menurutnya, alangkah baiknya bila ada peserta yang ingin memberikan saran ataupun masukan untuk langsung disampaikan melalui pengurus ataupun ke pihak penyelenggara Tutorial. “Ini ke pengurus yang baru. Ke penyelenggara ya. Karena kan di sini ada pengurus Tutorial, ada penyelenggara. Penyelenggara itu di SK kan langsung oleh Rektor.” ujarnya.
Usup Romli, selaku dosen IPAI sekaligus dosen pembimbing Tutorial, mengasumsikan adanya misinformasi di kalangan mahasiswa mengenai jadwal kegiatan Tutorial. Ia menerangkan jika BBQ adalah tugas dari UKM BAQI, sehingga bukan tupoksi dari pengurus Tutorial.
“Yang paling penting tadi mungkin kita kan sosialisasi terkait kegiatan itu memang ke PJ ya. Yang PJ-nya mungkin yang tidak menyampaikan dengan baik kepada seluruh peserta. Walaupun kita sudah di-notice (atau disampaikan–Red) lagi di setiap kegiatan Tutorial pembukaan. Kita sampaikan ada BAQI. BAQI itu posisinya bukan bagian dari tutorial,” terang Usup.
Di sisi lain, sampai berita ini dimuat, pihak UKM BAQI belum memberikan konfirmasi wawancara untuk verifikasi informasi terkait polemik Tutorial.
Sekilas tentang Munculnya Tutorial UPI
Udin selaku pembina dan juga mantan ketua penyelenggara Tutorial UPI, kembali menjelaskan bahwa Tutorial sudah dilaksanakan sejak awal tahun 80-an, sudah banyak mahasiswa yang tidak suka terhadap Tutorial tersebut. Dirinya khawatir, momen tersebut dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. “Kalaupun ada riak-riak yang tidak senang, dari dulu juga ada. Dulu juga ada riak-riak seperti itu. Kenapa? Ya khawatir dimanfaatkan,” ucapnya.
Ia pun menjelaskan jika sebenarnya program Tutorial ini yang kemudian membuat UPI dilirik oleh Islamic Development Bank (IsDB). Pada akhirnya UPI mendapat kucuran dana di tahun 2007–2008 untuk merenovasi Masjid Al-Furqan dan membangun bangunan lainnya.
“…Tapi untuk merenovasi masjid menjadi sekarang itu yang kemudian menjadi ‘daya jualnya’ itu adalah Tutorial. Makanya UPI (rektor-rektor sebelumnya-Pen) itu beramanah kalau misalkan Tutorial dihilangkan, maka kita harus pindah dari sini. Karena ini gedung-gedung atas jasa Tutorial. Atas tanda tangan nama rektor-rektor sebelumnya,” tambah Udin.
Sebagai penutup, Udin menyampaikan pesan bahwa sebelum berkomentar di sosial media, hendaknya para peserta Tutorial bertanya langsung kepada para dosen PAI. “Pesan saya gini, kalau ada hal-hal yang terkait dengan Tutorial atau BAQI, Anda jangan angkat ke media. Tanya dulu yang sebenarnya, check and recheck, karena sekarang itu banyak yang hoax di era sekarang. Jadi tanya langsung kepada kami-kami.” ujarnya.
Editor: Ananda R.