Ketika AI Bisa Menjawab Apa Saja, Masih Perlukah Kita Berpikir?

9

Oleh: Fathimah Azka Yusuf*

Pernahkah kita sadar? Ketika kita menemukan sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, kita tidak lagi mencari jawabannya melewati buku atau sumber lainnya seperti dulu. Cukup buka ChatGPT, ketik pertanyaannya, dan tunggu jawabannya sambil duduk manis. Itulah kebiasaan baru yang tercipta dalam beberapa waktu terakhir. Sebuah kemudahan yang mengagumkan.

Namun, di balik rasa kagum tersebut, muncul sebuah pertanyaan iseng, jika mesin sudah mampu menjawab hampir semua pertanyaan kita, apakah manusia masih perlu berpikir?

Pertanyaan ini mungkin terdengar berlebihan. Toh, AI hanyalah alat. Kita yang tetap mengetikkan pertanyaan apa yang diajukan dan memutuskan apakah jawaban itu akan digunakan atau tidak. Akan tetapi, sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi yang mempermudah pekerjaan manusia perlahan juga mengubah cara manusia menjalani hidup. Kalkulator mengubah cara kita berhitung. GPS mengubah kita jarang mengingat jalan. Media sosial mengubah cara kita berkomunikasi dan berinteraksi. Lalu mungkin saja AI juga sedang mengubah cara kita berpikir.

Filsuf Prancis René Descartes pernah mengatakan kalimat terkenalnya, “Cogito, ergo sum” yang artinya “Aku berpikir, maka aku ada”. Jelas di sini Descartes melihat jika kemampuan berpikir bukan sekadar aktivitas manusia menerima informasi, melainkan sebagai bukti kuat bahwa manusia adalah makhluk yang sadar akan keberadaannya. Berpikir berarti meragukan, mempertanyakan, mempertimbangkan, lalu mengambil kesimpulan.

Sayang seribu sayang, di era AI, proses tersebut perlahan mulai dipersingkat. Kita tidak lagi terbiasa bergulat dengan kebingungan karena jawaban sudah bisa tersedia dalam kedipan mata. Padahal, yang membentuk cara kita berpikir sering kali bukan jawabannya, melainkan proses untuk sampai pada jawaban itu.

Dulu, menyelesaikan sebuah tugas sering kali menghabiskan waktu berjam-jam membaca berbagai referensi, memahami materi, lalu merangkai dan menuangkan isi pemikiran kita sendiri. Proses itu memang tidak mudah, tetapi dari sanalah kita belajar mempertanyakan informasi, menyusun alasan yang logis, dan menempa kemampuan berpikir kritis kita. Kini, AI mampu merangkum puluhan halaman menjadi beberapa paragraf. Efisien, tentu saja. Namun, ada risiko bahwa kita menjadi akrab dengan kesimpulan tanpa pernah mengenal perjalanan berpikir yang melahirkannya.

Hannah Arendt, seorang filsuf politik pada abad ke-20, pernah menulis bahwa berpikir bukan sekadar menghasilkan jawaban yang benar. Berpikir adalah aktivitas yang membuat manusia mampu menilai, mempertanyakan, dan bertanggung jawab atas tindakannya. Ketika seseorang berhenti berpikir secara kritis, maka ia lebih mudah menerima sesuatu begitu saja tanpa mengujinya terlebih dahulu.

Di sinilah tantangan penggunaan AI sebenarnya berada. Masalahnya bukan pada kecerdasan buatan itu sendiri, melainkan pada kemungkinan manusia menyerahkan terlalu banyak proses berpikir kepada teknologi. Kita mulai terlalu cepat puas dengan jawaban pertama yang muncul. Kita jarang memeriksa kembali apakah informasi tersebut akurat, bias, atau bahkan relevan dengan konteks yang dipertanyakan.

Fenomena ini terasa semakin nyata di dunia pendidikan. Tidak sedikit pelajar yang menggunakan AI untuk menyusun tugas hampir secara utuh dari ujung kepala hingga kaki. Sekilas, hasilnya memang tampak begitu meyakinkan. Kalimat-kalimatnya mengalir dan argumennya tersusun rapi, seolah tidak ada yang perlu dipertanyakan. 

Namun, jika seluruh proses berpikir telah dialihkan kepada mesin, apakah tugas tersebut masih mencerminkan kemampuan berpikir kritis seseorang? Ataukah hanya menunjukkan bahwa kita semakin mahir menggunakan alat?

Tentu, bukan berarti AI ini harus dijauhi. Menolak AI sama saja seperti menolak internet dua puluh tahun lalu. Teknologi akan terus berkembang, dan manusia selalu menemukan cara untuk memanfaatkannya. Yang perlu dijaga adalah posisi AI sebagai rekan berpikir, bukan pengganti berpikir.

Kita sendiri merasakan manfaat AI dalam berbagai hal. Ketika mengalami kebuntuan ide, AI membantu memunculkan sudut pandang baru. Ketika membaca artikel yang rumit, AI membantu menjelaskan dengan bahasa bayi. Namun, seharusnya kita menyadari bahwa jawaban yang AI berikan seharusnya menjadi titik awal diskusi, bukan titik akhir pencarian.

Mungkin persoalan terbesar di era AI bukanlah apakah mesin akan menjadi lebih pintar daripada manusia. Pertanyaan yang lebih mendesak justru, apakah manusia akan tetap melatih kemampuan berpikirnya ketika segala sesuatu bisa diperoleh secara instan?

Kemajuan teknologi seharusnya mendampingi manusia untuk berpikir lebih dalam, bukan membuatnya berhenti berpikir. Sebab, yang membedakan manusia dari mesin bukanlah seberapa cepat ia menghasilkan jawaban, melainkan kemampuannya untuk mempertanyakan jawaban itu sendiri. Selama manusia masih mau bertanya, meragukan, dan mencari makna di balik setiap informasi, AI akan tetap menjadi alat yang memperkaya pemikiran, bukan menggantikannya.

Mungkin pada akhirnya, yang perlu kita pertahankan di tengah kecanggihan AI bukan sekadar kecerdasan, melainkan kesadaran dan keberanian untuk tetap berpikir.

*Penulis merupakan mahasiswa S1 Psikologi angkatan 2024

Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis yang bersangkutan

You might also like