Gadis Kecil yang Terjebak dalam Sangkar

86

Oleh: Muhammad Zaki Annasyath

*) Penulis adalah Mahasiswa Perpustakaan dan Sains Informasi FIP UPI 2016

Gadis kecil itu memiliki ayah pemabuk dan kerap melakukan tindak kekerasan. Ibu gadis itu mencampakannya di sebuah tikungan jalan berangkal batu. Seakan belum lengkap, pamannya menabur garam dalam luka dengan melakukan kekerasan seksual pada dirinya di sebuah rumah pada suatu ketika.

Meskipun waktu melemahkan ingatan, Peristiwa terakhir, bertahun-tahun kemudian, masih terpacak di kepala dan menghantui pikiran gadis tersebut. Torey Hayden mengisahkan bahwa gadis itu ketika dewasa tak ingin punya hubungan dengan pria manapun karena kejadian itu terlampau membekas sampai menyebabkan trauma. Gadis itu bernama Sheila dan kisahnya disajikan dalam sebuah buku berjudul “Sheila” karya Torey Hayden.

Saya membaca kisah Sheila, di sebuah bangku taman di suatu malam yang lengang, seraya menyelami sebuah kemuraman yang tak asing. Tak bisa dihindari, saya pun membayangkan berapa banyak anak kecil di luar sana yang mengalami kekerasan fisik, emosional terutama seksual hingga dikoyak-koyak trauma di kemudian hari.

Berita tak menyenangkannya, bayangan saya tentang Sheila lain di Indonesia terang benderang nyata. KPAI menyatakan, sepanjang tahun 2018 kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) menduduki peringkat pertama dengan angka mencapai 1.434 kasus. ABH sebagai korban juga masih didominasi kasus kekerasan seksual, perempuan berjumlah 107 korban dan laki-laki berjumlah 75 korban.

Dampak yang timbul, persis seperti Sheila, perasaan trauma yang lama. Pinjam kata-kata Richard dan Susan, “Pengalaman traumatis yaitu peristiwa yang mendatangkan bencana atau peristiwa yang menyakitkan serta menimbulkan efek psikologis dan fisiologis yang berat”. Definisi itu mengisyaratkan bahwa pengalaman apapun itu, kalau menyakiti hati seorang anak kecil, maka dapat menyebabkan efek begitu besar.

Dilansir dari Kompas, korban dengan kategori anak usia sekolah akan mengalami trauma yang lebih besar sebab ia dapat terbayang peristiwa tersebut. Adanya regresi atau mundurnya perkembangan, kata Tjhin Wiguna, Seorang psikiater anak, merupakan akibat paling nyata dari kekerasan seksual pada anak balita dan anak usia sekolah

Mengetahui dampak itu, tentu saja, membuat saya ketakutan. Masalahnya, kalau saya saja yang bisa dibilang lahir dari keluarga lengkap, cukup secara finansial, mengenyam pendidikan sekolah islam elit, pernah mengalami kejadian tak menyenangkan sampai menimbulkan trauma. Lalu bagaimana dengan anak kecil yang bernasib sama seperti Sheila?

Terang saja jawabannya: penderitaan mereka makin kelam.

Saya ingin tunjukkan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa penuh keajaiban dalam kehidupan manusia sekaligus rawan. Kita menyaksikan kebahagiaan mereka begitu berkilauan. Kita menyaksikan imajinasinya begitu cemerlang. Kita menyaksikan setiap sudut-sudut kehidupan menjadi taman bermain bagi mereka.

Namun, kerawanan saat masa kanak-kanak tampak pada aspek ingatan mereka. Robert S. Feldman pernah mengatakan, “Ingatan anak-anak terutama rentan terhadap pengaruh ketika situasi yang ada sangat emosional atau menekan tumbuh begitu kuat.”

Ingatan tentang kejadian-kejadian yang terjadi jauh di masa lalu, kata Robert, disebut Memori Episodic. Maka, segala pengalaman menyenangkan dengan mudah terpacak lekat. Sama halnya dengan pengalaman pahit yang mengiris dan menyebabkan trauma begitu lama.

Kasih sayang dari keluarga maupun sekolah menjadi semacam kombo maut bagi perkembangan seorang anak. Rasa kasih sayang, ungkap Shaver dan Kinnert, fungsinya agar anak mendapat rasa aman dari kebersamaan dengan orang yang dikasihi. Kasih sayang itu akan jadi bekal bagi anak saat menjalin kedekatan emosional dengan orang lain. Lebih dari itu, anak dapat memiliki kemampuan mengakrabi rasa takut di kehidupannya kelak.

Beberapa tahun lalu, saya kerap bermain game Stronghold Crusader. Seperti game bertema strategi lain, Stronghold Crusader mengharuskan kita membuat sebuah kerajaan utopis dan mempertahankannya dari berbagai masalah yang muncul.

Salah satu indikator keberhasilan di permainan itu tak muluk-muluk, selain menghancurkan musuh tentu saja, adalah adanya anak-anak kecil yang bermain di taman. Saat itu, saya menganggap hal tersebut biasa. Akan tetapi beberapa tahun kemudian, saya merasa indikator keberhasilan macam itu begitu sulit dicapai di dunia nyata.

Mengingat game itu, terlintas di pikiran untuk menciptakan sebuah utopia berupa tempat manusia saling memahami satu sama lain. Tempat anak-anak bermain dan bernyanyi dengan kegembiraan tak terkira tanpa takut akan kejadian traumatis yang menimpa. Kemiskinan, kebodohan, perang, penyakit, kekotoran lenyap seperti digambarkan H.G. Wells di dalam karya-karyanya.

Angin makin kencang. Malam tambah sunyi. Saya pun segera menutup buku, mengencangkan jaket lalu mencangklong tas biru pulang ke rumah. Sebuah harapan terbersit: Besok pada pagi hari, dunia menjadi menyenangkan tak terkira.

Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis yang bersangkutan.

Comments

comments